Wamenkes Ungkap 126 Ribu Jiwa Melayang Akibat TBC di Indonesia Tiap Tahun

JAKARTA – Indonesia menghadapi tantangan serius dalam pemberantasan tuberkulosis (TBC) dengan angka kematian yang mencapai 126 ribu jiwa setiap tahun. Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Benjamin Paulus Octavianus mengungkapkan data memprihatinkan ini sebagai alasan utama pemerintah untuk memperkuat strategi penanggulangan TBC secara nasional.

Benjamin menyampaikan hal tersebut saat menghadiri Hospital Leadership for TB Elimination di Balai Kota Jakarta. Acara ini bertujuan untuk memperkokoh komitmen para pimpinan rumah sakit dalam mendukung target eliminasi TBC di Jakarta pada tahun 2030.

Menurut Benjamin, Presiden Prabowo Subianto memberikan perhatian khusus terhadap isu TBC. Penanganan penyakit ini menjadi salah satu prioritas utama yang diemban oleh Wamenkes. “Beliau (Presiden Prabowo) mendapatkan data ini ya, ada 126.000 orang meninggal karena di Indonesia karena tuberkulosis. Lalu beliau memanggil saya, ‘Tolong, kan kamu ahli paru. Selain tugasmu di Kemenkes sebagai Wamenkes, banyak yang lain, tambah salah satu tugas pokokmu pemberantasan TBC,'” ujar Benjamin menirukan instruksi Presiden.

Ia menegaskan bahwa pemberantasan TBC memerlukan kolaborasi erat dari berbagai pihak, meliputi pemerintah pusat, pemerintah daerah, seluruh jajaran rumah sakit, puskesmas, hingga para tenaga kesehatan.

Lebih lanjut, Benjamin menyoroti peningkatan proporsi kasus TBC Indonesia terhadap kasus global. Angka ini melonjak dari sekitar 7% pada tahun 2010 menjadi 10% pada tahun 2024, menunjukkan perlunya langkah-langkah yang lebih intensif untuk mengendalikan penularan.

Meskipun demikian, Benjamin mengapresiasi peningkatan capaian pengobatan TBC di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Jika pada tahun 2021 hanya 46% kasus TBC yang mendapatkan pengobatan, angka tersebut meningkat menjadi sekitar 80% pada tahun lalu. “Artinya, seluruh rumah sakit di DKI ini maupun puskesmas telah melakukan percepatan kerja dua kali lipat dibanding 4 tahun lalu. Terima kasih ya, karena ini jasanya mereka ini,” katanya.

Namun, tantangan terbesar dalam penanggulangan TBC tidak hanya berhenti pada pengobatan pasien yang terdeteksi, tetapi juga pada pencegahan penularan. Benjamin menyoroti rendahnya cakupan pemberian terapi pencegahan TBC (TPT) di Indonesia, yang pada tahun 2022 baru mencapai sekitar 1%.

Ia memberikan ilustrasi, sebuah daerah mungkin berhasil menemukan dan mengobati sebagian besar pasien TBC. Namun, jika upaya pencegahan penularan tidak berjalan optimal, jumlah kasus baru berpotensi tetap tinggi di tahun berikutnya. “Jadi, gampangnya begini, Pak. Saya kan ke Kabupaten Bandung. Di Kabupaten Bandung penduduknya 3,8 juta orang. Yang sakit TBC 15.000 orang, ditemukan kasus 97% karena bupatinya kerja sungguh-sungguh, yang diobati 95%. Tahun depan yang sakit 15.000 lagi. Saya bilang, ‘Pak Bupati, ini pasti ada yang masalah,'” tutur Benjamin.

Untuk mempercepat penanganan TBC, pemerintah berupaya memperkuat penemuan kasus melalui pemeriksaan aktif dan peningkatan fasilitas diagnosis. Seluruh puskesmas di DKI Jakarta direncanakan akan dilengkapi dengan alat diagnostik TBC.

Selain itu, Kementerian Kesehatan juga mendistribusikan alat rontgen untuk mendukung pemeriksaan di berbagai wilayah, termasuk daerah yang sulit dijangkau. Benjamin menekankan pentingnya pemeriksaan terhadap kontak erat pasien TBC, disertai pengobatan tuntas dan pemberian terapi pencegahan bagi yang memenuhi indikasi.

Ia juga mengajak para pimpinan rumah sakit dan tenaga medis untuk memberikan masukan jika ada kebijakan penanganan TBC yang dinilai belum efektif. Pemberantasan TBC harus dilakukan secara terintegrasi, memastikan penemuan kasus diikuti oleh pengobatan yang memadai dan pencegahan penularan yang optimal.

Tinggalkan komentar