Air Karat di Fakfak Diolah Jadi Layak Konsumsi Berkat Teknologi Unpad

FAKFAK – Masyarakat Fakfak kini memiliki akses yang lebih baik terhadap air bersih berkat inovasi dari Tim Ekspedisi Patriot Universitas Padjadjaran (TEP Unpad). Sebanyak enam Instalasi Pengolahan Air (IPA) telah dibangun untuk mengolah air dari sumur bor yang sebelumnya bermasalah.

Selama ini, warga di kawasan Bomberay-Tomage menghadapi kendala terkait kelayakan air untuk dikonsumsi. Kepala Kampung Wonorejo, Aan, pada Sabtu (17/10) lalu, menggambarkan kondisi air sumur warga yang meskipun tampak jernih saat ditimba, namun memiliki bau karat yang kuat dan meninggalkan endapan pekat setelah didiamkan.

Keluhan ini sejalan dengan temuan kajian yang dilakukan oleh TEP Unpad bersama Puskesmas Bomberay sejak Agustus 2026. Tim melakukan serangkaian pengujian parameter air, pengukuran tinggi muka air tanah, serta pemetaan kondisi air di berbagai titik. Hasil kajian menunjukkan tingkat keasaman (pH) air di kawasan tersebut cukup ekstrem, bahkan mencapai 5,2 di salah satu lokasi dan berkisar di angka 4 di Tomage.

“Karena itu, warga membutuhkan teknologi pengolahan air yang mudah diterapkan dan dirawat. Kami mengembangkan WTP Pasoepati Padjadjaran sebagai solusi. Alat ini tidak hanya menyaring air, tetapi juga menaikkan pH agar layak dikonsumsi,” jelas Ketua TEP Unpad, Dr. Eddy Renaldi, dalam keterangannya pada Selasa (27/10/2026), bertepatan dengan acara serah terima instalasi di Fakfak, Papua Barat, pada Senin (26/10).

Program ini menjadi pelengkap fasilitas sumur bor yang sebelumnya telah disediakan oleh TNI di kawasan Bomberay-Tomage. TNI berperan dalam menyediakan akses sumber air, sementara TEP Unpad bertugas meningkatkan kualitas airnya agar memenuhi standar kesehatan.

Selama bulan Oktober 2026, tim TEP Unpad melakukan uji coba lapangan dan memasang instalasi di enam kampung. Keenam lokasi tersebut meliputi Mekarsari, Thessa, Onim Jaya, Mbima Jaya, Wonorejo, dan Pinang Agung. Pemasangan ini mendapat dukungan penuh dari aparat TNI serta pemerintah kampung setempat. Sebagai tindak lanjut, tim mengadakan sosialisasi tata kelola pada Minggu (25/10) sebelum akhirnya menyerahkan instalasi kepada masyarakat pada hari berikutnya.

Penyediaan fasilitas pengolahan air ini juga sejalan dengan perhatian Presiden Prabowo Subianto terhadap isu air bersih. Dalam Sidang Tahunan MPR RI pada Jumat (14/8/2026), Presiden menyatakan, “Banyak rakyat kita yang tidak punya akses kepada air bersih. Mereka harus berjalan dengan susah payah, berkilo-kilo hanya untuk mengambil satu atau dua jerigen air bersih.”

Langkah TEP Unpad juga selaras dengan arahan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Dalam rilis resmi pada 26 Agustus, AHY menekankan pentingnya pembangunan infrastruktur wilayah yang berbasis riset, data, dan kolaborasi dengan perguruan tinggi.

Prinsip serupa juga ditegaskan oleh Menteri Transmigrasi, Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara, saat Rapat Hasil Reviu TEP 2025 di Jakarta pada 28 April. “Kita harus memikirkan bagaimana anggaran ini memberikan multiplier effect yang maksimal,” tegasnya.

Diharapkan, fasilitas ini akan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Fakfak, mendukung peningkatan kesehatan, serta memenuhi kebutuhan sehari-hari. Melalui pengelolaan berbasis masyarakat dan koperasi desa, instalasi pengolahan air ini diharapkan menjadi langkah awal menuju kemandirian air bersih yang berkelanjutan di kawasan transmigrasi Bomberay-Tomage.

Tinggalkan komentar