Ketua Komisi XI DPR, Mukhamad Misbakhun, mengapresiasi pidato Presiden Prabowo Subianto mengenai Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang dinilainya berpotensi menjadi penyemangat bagi masyarakat di tengah kekhawatiran penurunan status pasar modal Indonesia menjadi Standalone Market.
Misbakhun menekankan bahwa pidato tersebut bertujuan menguatkan keyakinan bahwa ekonomi Indonesia dibangun di atas kekuatan rakyat. “Bapak Presiden adalah ingin memberikan penguatan bahwa ekonomi Indonesia itu dibangun berdasarkan kekuatan rakyat Indonesia itu sendiri. Kekuatan rakyat Indonesia sendiri. Tentunya dengan memberikan semangat itu, rakyat Indonesia diharapkan tidak terlalu khawatir dengan situasi yang ada,” ujar Misbakhun mengutip pidato Presiden.
Ia menambahkan bahwa di luar pasar modal, Indonesia memiliki ketahanan di sektor pangan, energi, serta daya lentur ekonomi dan resiliensi yang terbukti kuat, seperti saat pandemi COVID-19. Kala itu, meskipun dunia terhenti, Indonesia mampu pulih dengan cepat, menunjukkan resiliensi yang sangat baik.
“Kita punya daya tahan yang sangat kuat, kita punya ekonomi yang sangat lincah. Dan tentunya ini menjadi sebuah kekuatan sendiri,” tegasnya.
Misbakhun mengklarifikasi bahwa pernyataan Prabowo soal MSCI tidak seharusnya diartikan secara parsial. Menurutnya, Presiden memahami situasi dan tekanan global saat ini, sehingga para pengambil kebijakan perlu berhati-hati dalam merumuskan kebijakan.
“Tetapi situasi sulit, situasi tekanan itu harus disikapi dengan lebih hati-hati, para pengambil kebijakan juga harus diberikan semangat bahwa apa yang menjadi kebijakan-kebijakan mereka itu memberikan dampak yang nyata buat masyarakat,” tuturnya.
Evaluasi dan Pemantauan Pasar Modal Mendesak
Misbakhun mengungkapkan bahwa Komisi XI DPR telah berulang kali mendesak pemerintah untuk melakukan evaluasi dan pemantauan terhadap pasar modal. Desakan ini disampaikan dalam berbagai rapat bersama pemangku kepentingan.
“Jadi gini, yang berkaitan dengan pasar modal, kita sering sekali, sering sekali Komisi XI itu rapat, kemudian memohon lakukan evaluasi monitoring, termasuk terhadap penurunan pasar modal,” kata Misbakhun.
Dalam rapat-rapat tersebut, ia juga menyoroti keseriusan proses reformasi pasar modal, termasuk upaya demutualisasi, yang bertujuan untuk membangun kembali kepercayaan publik. “Ini dalam rangka apa? Dalam rangka membangun kembali kepercayaan masyarakat, tidak hanya masyarakat investor nasional, lokal, nasional, regional, tapi investor global, terhadap apa? Bursa saham Indonesia, sehingga prasyarat-prasyarat awal pada saat MSCI yang awal dulu itu sudah dipenuhi semua mereka,” jelasnya.
Misbakhun menambahkan bahwa langkah-langkah ini penting untuk memberikan pesan yang kuat kepada MSCI dan investor global bahwa Indonesia patuh pada protokol tata kelola bursa saham internasional. Ia juga menyebutkan bahwa Bursa Efek Indonesia telah melakukan upaya serius dan berulang kali bertemu dengan pihak MSCI.