Ridwan Alimuddin Masuk 3 Besar DPD RI Awards 2026 Berkat Dedikasi Lestarikan Sandeq

Jakarta – Muhammad Ridwan Alimuddin berhasil menembus tiga besar DPD RI Awards 2026 dalam kategori Pelestari Budaya Daerah. Dedikasinya yang luar biasa dalam melestarikan kebudayaan bahari Mandar, khususnya perahu tradisional Sandeq, menjadi sorotan utama dalam penghargaan ini.

Penentuan tiga besar DPD RI Awards 2026 dilakukan melalui rapat perdana Dewan Pakar yang diselenggarakan di Menara Bank Mega, Jakarta Selatan, pada Senin, 5 Oktober 2026. Sejumlah anggota Dewan Pakar hadir secara langsung, sementara yang berhalangan tetap turut memberikan pandangan dan kontribusi dalam pembahasan.

Dewan Pakar DPD Awards 2026 terdiri dari Menteri Kebudayaan RI Prof (Hon) Dr. H. Fadli Zon, SS, M.Sc, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof. Dr. Arif Satria, S.P., M.Si, Wakil Ketua Komisi II DPR RI Dr. Dede Yusuf Macan Effendi, S.T., M.I.Pol, Anggota DPD RI Dr. Agustin Teras Narang, S.H, serta Guru Besar FMIPA Universitas Indonesia (UI) Prof. Dr. rer. nat. Agustino Zulys, S.Si., M.Sc. Penghargaan ini memiliki empat kategori, yaitu Inovator Pendidikan Non-Formal/Pendidikan Luar Sekolah, Inovator Teknologi Kesehatan, Penggerak Desa Mandiri Pangan, dan Pelestari Budaya Daerah.

Profil Muhammad Ridwan Alimuddin

Ridwan Alimuddin dikenal sebagai peneliti independen, Duta Baca Sulawesi Barat, dan pendiri Komunitas Bahari Mandar sejak tahun 2006. Ia mendedikasikan hidupnya untuk merevitalisasi dan melestarikan kebudayaan bahari Mandar, terutama perahu tradisional Sandeq.

Pria kelahiran Polewali Mandar ini berupaya memastikan regenerasi pengetahuan tentang warisan budaya bahari Mandar terus berlanjut. Hal ini ia wujudkan melalui inisiasi dan peranannya sebagai kurator program Student on Sandeq (SOS) yang berlangsung dari tahun 2022 hingga 2026.

Program SOS berfungsi sebagai wadah edukatif yang mengenalkan generasi muda pada teknik pembuatan hingga pelayaran perahu tradisional Sandeq. Sejak tahun 2001, Ridwan juga aktif terlibat dalam penyelenggaraan festival Sandeq Race demi merawat marwah dan eksistensi pelaut lokal secara berkelanjutan.

Pengalaman Ridwan tidak berhenti di situ. Ia turut berpartisipasi dalam pelayaran rekonstruksi historis, termasuk ekspedisi Padewakang ke Australia pada periode 2019-2020.

Lebih lanjut, Ridwan mendirikan museum Nusa Pustaka dan menginisiasi gerakan Armada Pustaka di Sulawesi Barat. Gerakan literasi bergerak ini bertujuan menyalurkan akses bahan bacaan bagi anak-anak pesisir di pulau terpencil, sekaligus mengintegrasikan pendidikan dengan identitas maritim lokal.

Penghargaan dan Dampak Inisiatif

Atas dedikasinya, Ridwan menerima Anugerah Kebudayaan Indonesia kategori Pelopor/Pembaruan pada Desember 2025. Dalam kancah diplomasi budaya internasional, ia sukses membawa perahu Sandeq berlayar dan tampil dalam festival maritim bergengsi di Brest, Prancis, pada tahun 2012.

Di tingkat lokal, program Student on Sandeq terbukti berhasil mencetak kader muda pelestari yang menjamin keahlian maritim Mandar tidak terputus. Ridwan menambahkan bahwa penyelenggaraan Sandeq Race juga memberikan dampak langsung pada penguatan kebanggaan komunal dan pergerakan ekonomi pesisir berbasis pariwisata sejarah.

Secara sosial dan pendidikan, keberadaan museum maritim Nusa Pustaka dan Perahu Pustaka dinilai mampu memberikan keadilan akses literasi kepada ribuan masyarakat di pelosok. Ridwan juga telah produktif menulis 20 buku mengenai budaya Mandar dan kebaharian Nusantara.

Ridwan menegaskan bahwa upaya kolaboratif ini tidak hanya bertujuan menyelamatkan artefak, tetapi terbukti mampu mentransformasi kesadaran sejarah dan menumbuhkan kedaulatan identitas generasi muda Sulawesi Barat terhadap lautnya.

Tinggalkan komentar