Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto mengonfirmasi bahwa misi bantuan personel Jepang untuk penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia telah selesai. Misi kemanusiaan tersebut berlangsung selama 14 hari, terhitung sejak 16 hingga 29 September 2026.
Pemerintah Jepang telah secara resmi memberitahukan durasi operasi penanganan karhutla melalui surat resmi yang ditujukan kepada Pemerintah Indonesia. Setelah misi berakhir, Jepang juga telah menyerahkan laporan pelaksanaan operasi, yang mencakup detail waktu pengakhiran misi.
“Terkait bantuan Jepang dalam penanganan karhutla di Indonesia, Pemerintah Jepang telah menyampaikan dalam surat resmi bahwa durasi operasi penanganan karhutla akan dilaksanakan selama 14 hari. Dengan berakhirnya misi di atas, Pemerintah Jepang telah menyampaikan laporan pelaksanaan misi operasi termasuk waktu pengakhirannya,” ujar Suharyanto kepada awak media pada Selasa (13/10/2026).
Suharyanto menegaskan bahwa mekanisme penerimaan bantuan internasional untuk penanganan bencana harus melalui prosedur resmi. Negara-negara mitra yang bermaksud memberikan bantuan kemanusiaan diwajibkan menyampaikan surat resmi kepada Pemerintah Indonesia sebelum personel atau bantuan tiba di wilayah Indonesia.
Surat tersebut harus memuat informasi rinci mengenai jenis operasi kemanusiaan yang akan dilakukan, jenis dan jumlah barang atau peralatan yang akan digunakan, jumlah personel beserta keahlian masing-masing, serta durasi pelaksanaan misi di Indonesia.
“Namun perlu kami luruskan informasi yang beredar dan belum terverifikasi terkait mekanisme bantuan internasional,” jelasnya.
“Penerimaan bantuan negara mitra pada misi kemanusiaan disampaikan melalui surat resmi Pemerintah pemberi bantuan kepada Pemerintah Indonesia sebelum ketibaan di wilayah Indonesia,” tambahnya.
Lebih lanjut, Suharyanto menyampaikan apresiasi yang mendalam kepada Pemerintah Jepang dan seluruh personel yang telah berkontribusi dalam upaya penanganan karhutla di Indonesia. Ia menilai kerja sama ini merupakan pengalaman penting untuk memperkuat koordinasi dan kapasitas penanganan bencana kedua negara di masa mendatang.