Insiden Ajudan Gubernur Kaltim dengan Pendemo, Pemprov Sebut Salah Dua-Duanya

Samarinda – Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur memberikan penjelasan mengenai insiden kontak fisik antara ajudan Gubernur Rudy Mas’ud dengan sejumlah pendemo di kawasan kantor gubernur di Samarinda. Peristiwa tersebut terjadi ketika Gubernur Rudy hendak melaksanakan salat Magrib.

Menurut keterangan Pemprov Kaltim, insiden bermula saat Gubernur Rudy hendak menunaikan ibadah salat Magrib di Masjid Nurul Mukminin yang berlokasi di area kantor gubernur pada Senin (19/10). Pada saat yang sama, massa dari Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Samarinda tengah menggelar unjuk rasa terkait isu kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Massa GMNI diketahui telah beraksi sejak sore hari, namun belum sempat bertemu dengan Gubernur Rudy karena agenda beliau yang padat. Aksi kemudian berlanjut di area sekitar masjid, yang juga menjadi lokasi titik kumpul dan pembubaran massa.

“Pada saat Pak Gubernur masuk, sebenarnya sudah dihadang sama teman-teman itu. Walaupun ada celetukan-celetukan kecil,” ujar Tim Ahli Gubernur Kaltim Bidang Informasi dan Komunikasi Publik, Sudarno, dalam keterangannya.

Sudarno menambahkan bahwa adanya penghadangan dan celetukan dari para pendemo memicu reaksi dari ajudan gubernur yang diketahui bernama Aski. Dalam rekaman video yang kemudian viral di media sosial, terlihat seorang demonstran perempuan mengalami kontak fisik hingga ponselnya terjatuh.

Sudarno mengakui bahwa tindakan fisik yang dilakukan oleh ajudan bernama Aski tersebut tidak dapat dibenarkan. “Kontak fisik yang dilakukan Aski (ajudan) itu tidak ada yang dibenarkan, nggak ada yang membenarkan,” tegasnya.

Lebih lanjut, Sudarno menilai bahwa insiden ini perlu dilihat secara objektif. Ia berpendapat bahwa tindakan ajudan gubernur dan situasi yang terjadi saat massa mendekati Rudy sama-sama perlu dievaluasi. “Kalau bicara salah, kalau mau objektif dan fair, itu salah dua-duanya,” tutupnya.

Tinggalkan komentar