Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menargetkan ibu kota dapat menjelma menjadi pusat perfilman di tingkat nasional hingga Asia Tenggara (ASEAN). Ia meyakini Jakarta memiliki potensi dan infrastruktur yang memadai untuk mewujudkan ambisi tersebut.
Pernyataan ini disampaikan Pramono saat membuka Jakarta Film Summit 2026 di Menteng, Jakarta Pusat, pada Selasa (20/10/2026). Menurutnya, Jakarta memiliki modal besar untuk menjadi sentra produksi film yang diperhitungkan.
“Menurut saya itu adalah momen yang luar biasa bahwa Jakarta ini sebenarnya bisa menjadi pusat perfilman nasional. Bahkan di ASEAN,” ujar Pramono.
Ia merinci sejumlah keunggulan Jakarta yang mendukung visinya. Salah satunya adalah kelengkapan infrastruktur yang terus berkembang. Pramono menyoroti peningkatan indeks kota global Jakarta dalam Oxford Economics Global Cities Index, yang naik dari peringkat 250 pada 2024 menjadi 159 pada 2025, dan menembus 100 besar di tahun 2026.
“Nggak mungkin itu bimsalabim tanpa koordinasi dan kerja keras kita bersama,” imbuhnya, menekankan capaian tersebut merupakan hasil upaya kolektif.
Selain infrastruktur fisik, Pramono juga menggarisbawahi perkembangan transportasi umum di Jakarta yang terus membaik, dengan konektivitas mencapai 93%. Ia menilai kemudahan mobilitas ini sangat krusial bagi masyarakat dan para pelaku industri kreatif.
Pertumbuhan ekonomi Jakarta yang berada di angka 5,52% dengan inflasi 2,7% juga diharapkan dapat dimanfaatkan untuk memperkuat sektor perfilman. Kontribusi Jakarta terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional sebesar 16,32% menjadi indikator kekuatan ekonomi yang dapat menopang industri kreatif.
Pramono secara spesifik berharap Jakarta dapat menorehkan reputasi yang sama seperti Busan, Korea Selatan, sebagai kota yang identik dengan perfilman. Ia meyakini Jakarta memiliki talenta, atmosfer kreatif, serta lokasi yang sangat mendukung.
“Tapi dalam hal perfilman ini, saya betul-betul menaruh harapan kepada Pak Wagub dan tim untuk bisa berbuat sesuatu yang kemudian mudah-mudahan suatu hari kalau berbicara tentang Jakarta seperti orang berbicara tentang Busan, perfilman di Korea. Apakah Jakarta mampu dan bisa? Pasti mampu, pasti bisa. Karena apa? Atmosfernya ada dan ruangan ataupun tempat untuk itu ada,” jelasnya.
Ia menutup dengan harapan agar karya-karya perfilman yang lahir di Jakarta dapat membanggakan masyarakat dan meraih pengakuan internasional. “Selamat kepada Pak Wagub dan jajarannya untuk bersama-sama membangun Jakarta menjadi kota sinema. Mudah-mudahan ini langkah awal yang baik dan saya sungguh berharap bahwa ini bisa kita wujudkan,” pungkasnya.