Indonesia Tawarkan Peta Jalan Harmoni Global Lewat Islam Ramah di Forum Italia

JAKARTA – Indonesia dipandang sebagai episentrum baru peradaban Islam modern yang mengedepankan keramahtamahan, kemajuan, dan inklusivitas. Penegasan ini disampaikan Menteri Agama yang juga Imam Besar Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar, saat menjadi pembicara kunci dalam “Forum 16 – Prayer, Dialogue and Peace: The Legacy of Assisi” di Casa Leonori, Assisi, Italia.

Forum internasional tersebut merupakan bagian dari rangkaian Pertemuan Internasional untuk Perdamaian Sant’Egidio bertajuk “Unarmed and Disarming Peace”. Di hadapan para pemimpin agama dunia, Nasaruddin memaparkan dua gagasan utama yang ia sebut sebagai peta jalan baru bagi harmoni global: pluralisme progresif dan ekoteologi nusantara.

Mengenai pluralisme progresif, yang ia jabarkan sebagai ‘beyond tolerance’, Nasaruddin menekankan bahwa kerukunan di Indonesia tidak semata-mata dibangun di atas konsep mayoritas-minoritas atau sekadar toleransi pasif. Pluralisme progresif menuntut penghargaan yang tulus terhadap perbedaan nilai-nilai universal tanpa memaksakan penyeragaman. “Yang sama jangan dipaksa berbeda, yang berbeda jangan dipaksa sama,” tegasnya.

Sementara itu, terkait ekoteologi nusantara atau ‘beyond domination’, Nasaruddin mengidentifikasi akar krisis iklim global terletak pada cara pandang teologi yang dinilai terlalu maskulin, cenderung mendominasi, dan mengeksploitasi alam sebagai objek. Ia mengajak dunia untuk beralih pada perspektif sufistik Islam, yang menekankan aspek feminin ilahi, terutama melalui Asma’ul Husna yang didominasi sifat rahmah atau kasih sayang. Perspektif ini memandang alam sebagai manifestasi keindahan Tuhan. “Manusia dituntut melakukan eksplorasi yang merawat, bukan eksploitasi yang merusak,” ujarnya.

Sebagai wujud praktik baik penerapan ekoteologi di Indonesia, Nasaruddin mencontohkan pengelolaan Masjid Istiqlal di Jakarta. Masjid tersebut kini tercatat sebagai tempat ibadah pertama di dunia yang meraih sertifikasi bangunan hijau final Excellence in Design for Greater Efficiencies (EDGE) dari International Finance Corporation (IFC). Melalui revitalisasi yang berfokus pada lingkungan, termasuk penggunaan panel surya pintar dan pengelolaan air wudu yang efisien, Masjid Istiqlal berhasil mencatat penghematan energi sebesar 23% dan air hingga 36%. Hal ini menjadi bukti nyata bagaimana spiritualitas dapat berkontribusi dalam menjawab tantangan perubahan iklim global.

Nasaruddin juga menyerukan para pemimpin dunia untuk menjadikan “bahasa agama” sebagai instrumen utama dalam diplomasi internasional guna membantu penyelesaian krisis kemanusiaan dan pemulihan ekosistem bumi. Ia berpendapat bahwa pendekatan spiritual lebih efektif dalam melucuti ego permusuhan dibandingkan manuver politik garis keras yang seringkali menemui jalan buntu. Sebagai bukti konkret, Nasaruddin menawarkan potret keberagaman dan stabilitas Indonesia sebagai model pluralisme global yang berhasil dikelola dalam kehidupan sehari-hari.

Validasi dan Sambutan Delegasi Global

Tawaran Indonesia yang disampaikan Nasaruddin dalam forum internasional tersebut disambut positif oleh berbagai tokoh dunia yang hadir sebagai panelis dan pengamat. David Rosen, Penasihat Khusus Abrahamic Family House, UEA, mengapresiasi penekanan Nasaruddin mengenai pentingnya melampaui formalitas. Menurutnya, semangat Assisi harus diwujudkan dalam aksi persaudaraan konkret di tingkat lokal untuk meredam polarisasi ekstrem global.

Senada dengan itu, Tokoh Buddhisme Rissho Kosei-kai, Jepang, Megumi Hirota Wada, menyetujui pilar ekoteologi yang disampaikan Nasaruddin. Ia berpandangan bahwa menjaga kelestarian bumi adalah tanggung jawab spiritual bersama, di mana harmoni manusia dengan alam merupakan kunci perdamaian sejati.

Dukungan juga datang dari Kardinal George Jacob Koovakad, Prefek Dikasteri untuk Dialog Antaragama, Takhta Suci. Ia menilai model kerukunan Indonesia serta Deklarasi Istiqlal 2024 menjadi inspirasi nyata bagaimana dialog teologis dapat melahirkan tindakan kemanusiaan bersama yang konkret.

Touch Sarith, Presiden Dhammaraingsei Buddhist Association, Kamboja, menyoroti poin pluralisme progresif. Ia memuji pendekatan Nusantara yang menolak dominasi mayoritas atas minoritas, menilai hal tersebut sebagai fondasi kokoh bagi stabilitas kawasan Asia Tenggara.

Prof. W. Cole Durham, Pakar Hukum dan Kebebasan Beragama Internasional, menilai makalah Nasaruddin memberikan landasan teoritis-praktis yang kuat untuk pengembangan kebijakan hukum dan kebebasan beragama yang berbasis pelestarian lingkungan atau ‘eco-justice’.

Sementara itu, Delegasi Sipil dan Pengamat Perdamaian, Mohammed Esslimani & Valerie Reginer, menyatakan bahwa seruan Nasaruddin untuk menggunakan bahasa agama sebagai instrumen formal diplomasi internasional merupakan terobosan krusial untuk melucuti permusuhan psikologis di wilayah konflik. Apresiasi ini semakin memantapkan posisi Indonesia sebagai pelopor gerakan Islam moderat dunia (Wasatiyyah Islam).

Dalam kunjungan tersebut, Staf Ahli Menteri Agama yang juga Plt. Dirjen Bimas Katolik, Adiyarto Sumardjono, turut mendampingi Menag. Agenda Menag selanjutnya dijadwalkan menuju Vatikan untuk bertemu dengan Menteri Luar Negeri Takhta Suci Vatikan guna membahas penguatan kemitraan strategis, serta penjajakan kerja sama kajian keagamaan dengan Pontificio Istituto di Studi Arabi e d’Islamistica (PISAI).

Tinggalkan komentar