Dua Tahun Kemenbud: Pelestarian Budaya, Diplomasi Internasional, dan Pengembangan Ekonomi Kreatif

JAKARTA – Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) merilis capaian kinerja selama dua tahun pertama sejak didirikan pada 2024. Pembentukan kementerian ini merupakan langkah strategis untuk memperkuat posisi kebudayaan sebagai fondasi pembangunan nasional, mulai dari meneguhkan identitas bangsa, menjaga persatuan, meningkatkan kesejahteraan, hingga memperluas pengaruh Indonesia di kancah global.

Selama dua tahun terakhir, Kemenbud memfokuskan program pada tiga pilar utama yang saling terhubung: pelindungan budaya, diplomasi dan kerja sama kebudayaan, serta pengembangan dan pemanfaatan budaya. Pelaksanaan program-program ini berlandaskan pada Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan dan Peraturan Presiden Nomor 190 Tahun 2024 tentang Kementerian Kebudayaan.

Perkembangan Indeks Pembangunan Kebudayaan (IPK) menunjukkan tren positif yang mendukung pencapaian target Indonesia Emas 2045. Dimensi Warisan Budaya dan Ekspresi Budaya menunjukkan pertumbuhan yang baik. Meskipun demikian, Dimensi Ekonomi Budaya masih mencatat capaian terendah, namun terus menunjukkan pertumbuhan bertahap.

Pelindungan Budaya: Menjaga Warisan dan Memastikan Keberlanjutan Tradisi

Upaya pelindungan budaya menunjukkan peningkatan signifikan. Penetapan Cagar Budaya Peringkat Nasional melonjak dari 10 penetapan pada 2024 menjadi 85 pada 2025, dan mencapai 7.471 penetapan hingga awal Oktober 2026. Untuk Warisan Budaya Takbenda Indonesia, jumlah penetapan meningkat dari 272 pada 2024 menjadi 550 hingga September 2026.

Penguatan status ini didukung oleh pelestarian fisik melalui pemugaran Istana Dalam Loka di NTB, revitalisasi Rumah Tabuik di Sumbar, serta pendampingan pemugaran candi. Pada 2026, program revitalisasi istana dan keraton mencakup 21 objek.

Selain itu, Kemenbud memfasilitasi kekayaan intelektual dengan 129 pencatatan hak cipta, 25 pendaftaran merek, dan 250 pencatatan Kekayaan Intelektual Komunal pada 2026. Program Gerakan Seniman Masuk Sekolah telah menjangkau 216 sekolah dengan 3.521 peserta didik hingga September 2026. Dukungan kepada masyarakat adat dan penghayat kepercayaan telah menyentuh 43 lembaga.

Untuk 2027, Gerakan Seniman Masuk Sekolah ditargetkan menjangkau 341 lembaga, sementara dukungan masyarakat adat dan penghayat kepercayaan mencakup fasilitasi 40 lembaga, pengembangan 22 desa adat, dan peningkatan kapasitas 550 orang.

Pemajuan Kebudayaan di Daerah melalui Balai dan Kantor Pelestarian Kebudayaan

Jaringan unit pelaksana teknis di bawah Direktorat Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi kini terdiri atas 33 unit, yaitu 30 Balai Pelestarian Kebudayaan dan tiga Kantor Pelestarian Kebudayaan. Unit-unit ini berperan sebagai simpul kerja kebudayaan di daerah.

Penguatan daerah didukung oleh pendanaan berkelanjutan melalui Dana IndonesiaRaya (sebelumnya Dana Indonesiana). Pada 2026, Kemenbud mengalokasikan Rp500 miliar dari pengelolaan Dana Abadi Kebudayaan. Pada 2025, penerima manfaat di daerah dengan IPK di bawah rata-rata nasional mencapai 58 persen, meningkat dua poin persentase dibandingkan tahun sebelumnya.

Diplomasi dan Kerja Sama: Memperjuangkan Warisan dan Memperkuat Posisi Indonesia

Dalam upaya diplomasi budaya, empat objek Koleksi Dubois berhasil dipulangkan dari Belanda pada 2025, bersamaan dengan pengembalian empat benda budaya dari New York, termasuk Arca Puspatara. Kesepakatan repatriasi 30.190 objek Koleksi Dubois, yang terdiri dari 29.763 objek dan 427 sisa kerangka leluhur, diselesaikan pada 2026.

Kesepakatan lain mencakup pengembalian 20 benda budaya bersejarah dari Belanda dan persiapan pemulangan Koleksi Van Koenigswald dari Jerman. Di bidang Warisan Dunia, Warisan Megalitik di Kawasan Lore Lindu dan Jalur Perniagaan Rempah Abad XIII-XVIII masuk dalam Tentative List UNESCO pada 2025.

Indonesia juga mengawal pengusulan Tempe dan Mak Yong, serta menginisiasi nominasi Zapin bersama Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam. Keanggotaan Indonesia dalam Komite Warisan Budaya Takbenda UNESCO periode 2026-2030 memperluas kontribusi pada agenda pelindungan global.

Promosi budaya dilakukan melalui Rumah Budaya Indonesia yang menjangkau 12 negara pada 2025. Paviliun Indonesia di Venice Biennale Arte ke-61 menampilkan tujuh perupa melalui Printing the Unprinted pada 2026, sementara Indonesia Cultural Megadiversity di Amerika Serikat juga dipersiapkan untuk November 2026.

Kemitraan diperkuat dengan penyelenggaraan 11 forum kerja sama kebudayaan pada 2025, melampaui target 10 forum, serta penandatanganan 13 dokumen kerja sama internasional. Kerja sama berlanjut melalui fasilitasi LoI Indonesia-India untuk pelestarian Candi Prambanan, MoU Indonesia-Belarus, dan draf kerja sama dengan 35 negara mitra.

Prioritas pada 2027 meliputi kelanjutan repatriasi, pengajuan tiga calon situs ke Tentative List UNESCO, pengawalan pengusulan Dangdut, Keroncong, dan Tenun, serta kelanjutan nominasi Zapin. Indonesia Cultural Megadiversity direncanakan berkembang ke Mesir dan Meksiko, sementara jangkauan Rumah Budaya Indonesia ditargetkan menjadi 15 negara.

Pengembangan dan Pemanfaatan Budaya: Memperkuat Pelaku, Memperluas Akses

Manajemen Talenta Nasional Seni Budaya pada 2025 mencatat 5.711 talenta terdata dan dibina, dengan 116 talenta meraih rekognisi internasional. Laporan 2026 mencatat 52.055 talenta terdampak melalui 214 program bersama 169 mitra di 83 kabupaten/kota, serta 200 rekognisi internasional.

Di bidang film, Layar Indonesiana 2025 menghasilkan 10 film pendek dari 553 proposal. Akses publik diperluas melalui 85 pemutaran 21 judul film nasional yang ditonton 14.140 orang hingga Oktober 2026.

Festival Musik Tradisi Indonesia 2025 melibatkan 1.221 pelaku budaya dan menarik 30.200 penonton di empat provinsi. Pada 2026, festival ini menargetkan pelaksanaan di 10 titik, khususnya di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar.

Digitalisasi warisan budaya menghasilkan 8.827 data digital pada 2025, sementara Peta Interaktif Kebudayaan menampilkan 601 data cagar budaya dan warisan budaya takbenda. Program Budaya GO! diikuti 627 tim dari 33 provinsi pada 2025.

Bantuan sarana dan prasarana senilai Rp29,8 miliar menjangkau 81 penerima di 23 provinsi pada 2025. Untuk 2027, target pembinaan meliputi MTN bagi 5.278 orang, bimbingan teknis bagi 340 orang, sertifikasi bagi 385 orang, dan Pemajuan Kebudayaan Desa di 130 desa.

Ekonomi Budaya: Potensi Pertumbuhan dan Kesejahteraan Masa Depan

Ekonomi budaya dipandang sebagai potensi strategis bagi pertumbuhan Indonesia, meskipun dihadapkan pada tantangan seperti kesinambungan produksi, kapasitas pengelolaan usaha, pelindungan hak, akses pembiayaan, dan jaringan distribusi.

Kegiatan Prioritas Kemenbud 2027 difokuskan pada Penguatan Ekosistem Kebudayaan sebagai Fondasi dalam Akselerasi Pertumbuhan Berkualitas melalui Produktivitas, Investasi, dan Industri. Keberhasilan ekonomi budaya akan diukur melalui peningkatan pendapatan, kualitas pekerjaan, keberlanjutan usaha, regenerasi keterampilan, dan pemerataan manfaat.

Menuju Indonesia Emas 2045, kebudayaan diarahkan menjadi sumber ketahanan sosial dan pertumbuhan berkelanjutan. Pelestarian warisan, pemberdayaan pelaku budaya, pengembangan karya, dan pemerataan manfaat menjadi landasan membangun Peradaban Indonesia Raya yang berpengetahuan, adil, dan makmur.

Tinggalkan komentar