Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan atau Zulhas menekankan pentingnya menjaga lingkungan yang terjaga dan pengelolaan sumber daya berkelanjutan untuk mentransformasi sektor pangan nasional. Ia mendorong penguatan tata kelola lingkungan melalui teknologi Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL).
Skema PSEL mengintegrasikan pengelolaan sampah dari sumbernya hingga menjadi energi listrik. Residu yang tidak dapat dimanfaatkan akan diproses menjadi listrik. Langkah ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah untuk menjaga keberlanjutan lingkungan dan memperkuat ketahanan nasional di era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
“Alhamdulillah, ikhtiar memperkuat kedaulatan pangan mulai menunjukkan hasil. Kita bersyukur Indonesia semakin mampu memenuhi kebutuhan pangan dari dalam negeri. Namun, capaian ini harus dirasakan oleh petani, nelayan, dan masyarakat yang selama ini suaranya kerap kurang terdengar dalam rantai pangan. Inilah amanah yang harus kita jaga bersama,” ujar Zulhas dalam keterangan tertulis, Rabu (21/10/2026).
Pemerintah menargetkan pembangunan 21 PSEL hingga akhir tahun 2028 atau 2029. Dalam empat bulan terakhir, pembangunan PSEL telah dimulai di empat lokasi strategis: PSEL Denpasar Raya, Kota Bekasi, Bogor Raya 1, dan Legok Nangka Bandung.
Percepatan proyek PSEL didukung oleh Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 109 Tahun 2025. Regulasi ini bertujuan menyederhanakan prosedur dan memperkuat koordinasi lintas kementerian serta pemerintah daerah untuk mempercepat persiapan dan pelaksanaan proyek.
Selain PSEL, penguatan tata kelola lingkungan juga didukung oleh Sistem Registri Unit Karbon (SRUK) yang berfungsi sebagai fondasi tata kelola pasar karbon nasional yang tertib dan transparan.
Upaya pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan ini berjalan seiring dengan agenda penguatan kedaulatan pangan nasional. Dalam dua tahun terakhir, Indonesia berhasil mempertahankan swasembada pada delapan komoditas pangan utama, yaitu beras, jagung, gula konsumsi, cabai rawit, cabai besar, telur ayam, daging ayam, dan bawang merah, sehingga tidak lagi melakukan impor beras untuk konsumsi masyarakat.
“Kita ingin pangan Indonesia semakin berdaulat dan masyarakat yang bekerja di sektor pangan semakin sejahtera. Kerja keras ini harus terus dilanjutkan dengan kebijakan yang berpihak kepada petani, nelayan, dan masyarakat. Dengan kerja bersama, insyaallah fondasi yang kita bangun hari ini membuat Indonesia lebih tangguh,” pungkas Zulhas.