BLORA – Suasana hening di Masjid Agung An Nur, Dukuh Selogender, Desa Gempol, Kecamatan Jati, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, mendadak pecah oleh suara gaduh. Seekor babi hutan atau celeng tepergok memasuki area masjid, yang kemudian berujung pada penembakan mati hewan tersebut oleh warga.
Peristiwa tidak biasa ini terjadi sekitar pukul 14.00 WIB pada Rabu (21/10). Menurut kesaksian warga setempat, Kiswanto, suara tembakan mengejutkan dirinya yang sedang berada di rumah. “Saya sedang di rumah tiba-tiba mendengar suara ‘jedor’. Saya keluar, saya kira anak saya. Terus ada tetangga bilang bahwa ada celeng masuk masjid,” ungkap Kiswanto.
Celeng yang diduga berasal dari hutan di sebelah utara desa tersebut, sebelum memasuki masjid, dilaporkan sempat menabrak pintu pagar hingga roboh. Kiswanto kemudian mendatangi lokasi dan mendapati hewan liar itu sudah berada di area tempat imam. Warga yang berkerumun di luar pagar merasa khawatir melihat keberadaan hewan berukuran besar tersebut.
“Celeng dari arah timur, lari ke barat nabrak pagar. Pagar sampai roboh. Terus ada orang lewat, tahu ada suara, setelah dilihat ternyata ada babi hutan,” jelasnya.
Mengingat ukuran celeng yang diperkirakan mencapai 90 kilogram, warga berinisiatif mencari bantuan dari seseorang yang memiliki senapan. Hal ini dilakukan karena dinilai tidak memungkinkan untuk menangkap hewan sebesar itu dengan tangan kosong.
“Masalahnya ukuran babinya kan besar, ya babi 90-an kilogram. Jadi kalau ditangkap secara manual kan tidak mumpuni. Jadi berinisiatif untuk pakai senapan,” tutur Kiswanto.
Setelah persiapan dilakukan, celeng tersebut akhirnya ditembak satu kali di bagian kepala dari jarak sekitar 20 meter. Hewan itu langsung ambruk dan dinyatakan mati di tempat.
“Setelah ditembak babinya langsung mati. Akhirnya dibawa teman-teman ke luar,” imbuhnya.
Selanjutnya, bangkai celeng tersebut dievakuasi keluar dari masjid oleh warga. Darah yang sempat berceceran di dalam masjid telah dibersihkan oleh pengurus masjid. Kiswanto menduga, celeng tersebut masuk ke permukiman warga untuk mencari makan atau minum, dan kemungkinan tersesat dari habitatnya di hutan utara desa.