Tawuran Maut Empat Geng di Jakbar Dipicu Tantangan Medsos

Jakarta – Aksi tawuran brutal yang melibatkan empat kelompok gangster di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat, pada Senin (26/10/2026) dini hari, telah merenggut nyawa. Perkelahian sengit menggunakan senjata tajam dan air keras ini dipicu oleh tantangan yang disebarkan melalui media sosial.

Peristiwa ini melibatkan geng-geng seperti Geng Popeye, Geng Batavia, Geng Bonsai, dan Geng Samudra. Tawuran tersebut terekam dalam video amatir yang kemudian viral, menunjukkan para pelaku saling serang di tengah permukiman warga. Dalam rekaman tersebut, terlihat petasan diluncurkan hingga masuk ke halaman rumah warga, serta seorang pria tergeletak bersimbah darah di jalan.

Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Metro Jakarta Barat bersama Polsek Kebon Jeruk bergerak cepat menindaklanjuti laporan tersebut. Sebanyak 19 orang berhasil diamankan, terdiri dari 7 orang dewasa dan 12 anak yang berhadapan dengan hukum (ABH). Polisi masih memburu satu orang yang diduga terlibat dalam penyiraman air keras.

19 Pelaku Diamankan, Mayoritas Remaja

Kapolres Metro Jakarta Barat, Kombes Nasriadi, menjelaskan bahwa dari 19 orang yang ditangkap, tiga di antaranya diduga pelaku utama yang melakukan pembacokan terhadap korban hingga meninggal dunia. Sementara itu, satu pelaku lain yang menyiramkan air keras masih dalam daftar pencarian orang (DPO).

Nasriadi menambahkan bahwa beberapa orang yang diamankan juga berperan sebagai admin media sosial. Para admin ini bertugas menyiarkan langsung aksi tawuran dan menyebarluaskannya di jaringan media sosial mereka.

“RM ini adalah sebagai admin dari medsos yang namanya Samudra. Dia adalah aktor intelektualnya yang mengajak, yang memposting, memprovokasi, kemudian melakukan bujuk rayu, dan salah satu pelaku, dia juga pelaku pembacokan tersebut yang mengakibatkan korban meninggal dunia, ini adalah orangnya,” jelas Kombes Nasriadi.

“Sedangkan ini adalah namanya A, dia adalah admin dari medsos namanya Batavia. Juga mengajak, mengajak kawan-kawannya, mengajak anak-anak. Jadi mereka berdua ini adalah admin, mengajak anak-anak untuk melakukan tawuran. Dan dua admin lagi adalah anak-anak yang mereka berhadapan dengan hukum,” imbuhnya.

Tawuran Dipicu Tantangan Media Sosial

Keempat gangster tersebut diketahui memiliki akun media sosial masing-masing. Pemicu tawuran berawal dari ajakan melalui media sosial dengan berbagai kode, seperti ‘berangkat’ hingga ‘serang’. Para admin memposting dan mengajak teman-teman mereka untuk saling menyerang antar geng.

“Mereka memposting, kemudian mengajak teman-temannya untuk bersama, untuk saling serang antar 4 geng tersebut. Tujuannya adalah mereka melakukan live studio live video untuk tujuan-tujuan tertentu dan meng-upload setiap kegiatan-kegiatan,” kata Kombes Nasriadi.

“Setiap kejadian-kejadian, setiap pembantaian dan pembacokan mereka upload di Instagram yang ada di mereka pegang sebagai adminnya,” imbuhnya.

Aksi Tawuran Disiarkan Langsung (Live Streaming)

Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Barat, AKBP Edy Sudarma Korniawan, menambahkan bahwa aksi tawuran disiarkan langsung melalui media sosial. Motifnya, menurut Edy, adalah untuk eksistensi gangster mereka dan mencari pengakuan.

“Kemudian live di media sosial, kemungkinan untuk apa, motifnya untuk jati diri, kemudian juga mendapatkan pengakuan gitu ya, uang mungkin ya dari itu ya, dari media sosialnya untuk live itu ya,” tuturnya.

Perekrutan dan Doktrin ‘Jiwa Korsa’ Negatif

Polisi mengungkap modus perekrutan anak di bawah umur oleh gangster di Jakarta Barat. Admin media sosial memegang peran penting dalam proses ini. Mereka mencari akun-akun lain untuk diajak bergabung ke dalam kelompok.

“Jadi si admin sinilah yang berperan mencari akun tetangga-tetangganya yang kira-kira mau masuk, dia akan undang. Pasti ada dapat undangan accept dong, atau menerima dong. Nah, undangan-undangan dia yang dia terima itu akan menjadi kelompoknya dia,” kata Kombes Nasriadi.

Selanjutnya, dilakukan praktik ‘cuci otak’ kepada anak-anak agar bangga ketika berhasil mengalahkan tim lawan. Anak-anak ini menjadi korban eksploitasi untuk menaikkan rating akun gangster.

“Orang-orang seperti ini mereka mencari keuntungan. Yang mempunyai akun atau admin medsos mencari keuntungan. Apa keuntungan? Ya, bisa live, mungkin akan dapat saweran, atau meng-upload gambar-gambar yang sangat-sangat tidak beretika, atau gambar-gambar misalnya orang luka, gambar-gambar ketika tawuran dengan hari itu banyak follower dan sebagainya,” kata Kombes Nasriadi.

“Sedangkan yang lain-lainnya adalah jiwa-jiwa korsa yang dibentuk secara negatif. Artinya, mereka terbentuk dalam satu kelompok medsos tersebut, mereka terkumpul dalam tersebut dan mereka melakukan apa yang diinginkan oleh si admin,” imbuhnya.

Tinggalkan komentar