Sungai Cileungsi Tercemar Pekat, Warga Keluhkan Bau Menyengat dan Gangguan Kesehatan

Bogor – Warga Desa Limusnunggal, Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, mengeluhkan kondisi Sungai Cileungsi yang airnya berubah warna menjadi hitam pekat menyerupai oli. Kondisi ini telah berlangsung lama dan menimbulkan bau tidak sedap yang sangat mengganggu aktivitas sehari-hari.

Pantauan di lapangan menunjukkan air sungai yang menghitam ini berada di sekitar kawasan aktivitas warga, termasuk permukiman penduduk. Sungai Cileungsi sendiri merupakan aliran air yang melintasi wilayah Bogor hingga Bekasi. Bau menyengat yang bercampur dengan aroma sampah menumpuk di sekitar sungai semakin memperparah kondisi.

Monita, seorang warga yang rumahnya berjarak kurang dari 100 meter dari sungai, mengaku sangat terganggu oleh bau tersebut. “Setiap buka pintu, niatnya pagi-pagi mau cari udara segar, yang ada langsung bau gitu ya. Dan itu semakin malam itu semakin menyengat,” tuturnya. Ia menambahkan bahwa udara yang tercemar ini membuat tenggorokannya terasa tidak nyaman, seperti gatal dan penuh dahak, meskipun tidak sedang sakit.

Warga berharap agar permasalahan pencemaran Sungai Cileungsi ini segera terselesaikan. Ketua RW setempat, Endang Jamhari, menyatakan bahwa pemerintah daerah telah mengidentifikasi beberapa perusahaan yang membuang limbah melebihi batas ke sungai. “Ya saya sih berharap masalah ini nggak berlarut-larut, terselesaikan, cukup tahun ini aja yang parah, ke depannya tidak lagi karena udah Pak Bupati udah turun dan menemukan berapa perusahaan yang melanggar, melebihi batas limbahnya yang dibuang ke Sungai Cileungsi itu,” kata Endang.

Endang juga menjelaskan bahwa keluhan warga terkait bau menyengat ini sering ia terima, terutama saat musim kemarau. Bau tersebut bahkan dilaporkan dapat tercium hingga radius 2 kilometer. Selain mengganggu warga, kondisi ini juga berdampak pada pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di sekitar sungai. “Ini semua pelaku usaha tuh mengeluh bahwa yang pengunjung yang biasa ramai, jadi berkurang. Yang biasa makan di tempat, tidak makan tempat, bungkus, jalan,” ungkapnya.

Menanggapi kondisi tersebut, Bupati Bogor Rudy Susmanto mengatakan pihaknya telah melakukan langkah-langkah tindak lanjut. Dinas Lingkungan Hidup telah dikerahkan untuk menginventarisasi saluran pabrik yang diduga menjadi pemicu pencemaran. Beberapa saluran yang tidak memiliki izin telah ditutup.

“Jadi dari kemarin kita sudah melakukan penataan beberapa saluran-saluran yang tidak memiliki izin kami sudah melakukan penutupan, tapi jumlah pabriknya ratusan,” jelas Rudy. Ia menambahkan bahwa Pemerintah Kabupaten Bogor juga berencana membangun beberapa Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) pada akhir tahun ini.

Bupati Rudy juga mengakui bahwa beberapa perizinan saluran air berada di bawah kewenangan pemerintah pusat, terutama untuk perusahaan berskala multinasional. Ia telah berkomunikasi dengan perusahaan-perusahaan tersebut untuk memperbaiki saluran limbah mereka. “Kami menyampaikan bahwa kami sayang terhadap masyarakat kita juga yang bekerja di sana, tapi perusahaan juga harus sayang terhadap lingkungan yang ada, maka kita harus cari solusi bersama-sama,” ujarnya.

Permasalahan pencemaran Sungai Cileungsi ini diakui telah berlangsung lama. “Ini bukan kejadian yang terjadi satu atau dua hari kemarin, bukan satu tahun, dua tahun kemarin, tapi sudah cukup lama,” pungkas Rudy, seraya berharap agar solusi terbaik dapat segera ditemukan.

Tinggalkan komentar