Presiden Prabowo Beri Perhatian Khusus Karhutla Tanjung Puting, Ribuan Hektare Terbakar

Jakarta – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi ancaman serius di Kalimantan, khususnya di Taman Nasional (TN) Tanjung Puting, Kalimantan Tengah. Kondisi ini menimbulkan keprihatinan mendalam dan memerlukan penanganan segera.

Pemerintah melalui Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menyatakan terus mengintensifkan upaya pemadaman meski menghadapi tantangan berat. Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kemenhut, Ristianto Pribadi, memahami kesulitan tim di lapangan akibat luasnya area terdampak, sulitnya akses, dan sifat lahan gambut yang memperparah kebakaran.

Keputusan sejumlah relawan, termasuk dari Yayasan Orangutan Hijau Kalimantan (YOHK) dan Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI), untuk mundur dari kegiatan pemadaman di TN Tanjung Puting menjadi perhatian. Mereka mengaku merasa upaya pemadaman tidak didukung secara maksimal.

Menanggapi situasi ini, Kemenhut telah mengajukan operasi pemadaman udara melalui water bombing sejak 9 September 2026. Operasi tersebut sempat dilakukan pada 20-22 September 2026, namun kebakaran belum sepenuhnya terkendali. Permohonan serupa kembali diajukan pada 2 Oktober dan 9 Oktober 2026 untuk wilayah Kotawaringin Barat dan Seruyan.

Tebalnya kabut asap menjadi salah satu kendala utama dalam operasi pemadaman, terutama karena membatasi jarak pandang helikopter dan membahayakan keselamatan penerbangan. Koordinasi dengan instansi terkait terus dilakukan untuk memastikan operasi udara dapat dilaksanakan sesuai kondisi yang memungkinkan.

Atensi Presiden Prabowo untuk Tanjung Puting

Presiden Prabowo Subianto memberikan perhatian khusus terhadap penanganan karhutla di kawasan TN Tanjung Puting. Ia menegaskan bahwa kawasan taman nasional harus dijaga secara serius.

Dalam rapat penanganan karhutla yang dipimpinnya, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Suharyanto, melaporkan bahwa kebakaran di TN Tanjung Puting mencapai sekitar 513,89 hektare. Penanganan difokuskan pada penguatan satuan tugas darat, sementara operasi udara masih terhambat oleh jarak pandang yang terbatas akibat asap tebal.

Presiden Prabowo menekankan pentingnya memperkuat keberadaan polisi hutan untuk meningkatkan efektivitas perlindungan dan pencegahan kebakaran hutan. Ia meminta agar jumlah dan kapasitas personel polisi hutan ditingkatkan secara bertahap.

Menanggapi kebutuhan lapangan, Pangdam XXII/Tambun Bungai, Mayjen TNI Zainul Arifin, melaporkan bahwa lokasi kebakaran tersebar di kawasan rawa yang sulit dijangkau. Kebutuhan utama di lapangan adalah pompa air berukuran kecil dan tim pengeboran air. Presiden Prabowo langsung merespons dengan menyatakan akan mengirimkan 200 pompa air dan mendukung pembuatan 200 titik bor air dengan anggaran Rp 2 miliar.

Luas Karhutla di Enam Provinsi

Kepala BNPB Suharyanto melaporkan total luas kebakaran hutan dan lahan di enam provinsi prioritas lahan gambut yang masih ditangani mencapai 639,23 hektare. Enam provinsi tersebut meliputi Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, dan Riau.

Luas terbesar kebakaran tercatat di Kalimantan Tengah, terutama di Taman Nasional Tanjung Puting, Kabupaten Kotawaringin Barat dan Seruyan, dengan luas 513,89 hektare. Meskipun bukan lahan gambut, lahan mineral ini menjadi prioritas penanganan segera.

Penanganan karhutla di lapangan terus dilakukan melalui jalur darat dengan penambahan pasukan dan peralatan satgas darat.

Perjuangan Warga Melawan Asap Tebal

Di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, asap tebal menyelimuti Jalan Liang Anggang, menyebabkan jarak pandang terbatas dan membahayakan pengendara. Kabut asap pekat memaksa pengendara mengurangi kecepatan hingga 30-40 km/jam dan menyalakan lampu kendaraan demi visibilitas.

Meskipun menggunakan helm dan masker, asap tetap tembus, menyebabkan mata perih dan mengganggu pernapasan. Pengendara bernama Rian menggambarkan situasi tersebut sangat berbahaya jika tidak fokus saat menyetir.

Warga lainnya, Firman, mengungkapkan kekhawatiran mendalam karena asap semakin tebal setiap hari, sementara anak-anak tetap harus bersekolah tatap muka tanpa pembelajaran jarak jauh.

Tinggalkan komentar