Anggota Komisi II DPR dari Fraksi Golkar, Ahmad Irawan, menyoroti pernyataan Gubernur Kalimantan Tengah (Kalteng) Agustiar Sabran yang dinilai kurang berempati terkait isu kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Irawan menegaskan bahwa pejabat publik, terutama kepala daerah, harus menunjukkan kepedulian dan pemahaman terhadap masyarakat yang terdampak bencana.
Menurut Irawan, karhutla membawa dampak negatif yang signifikan bagi masyarakat dan perekonomian. Oleh karena itu, komunikasi yang disampaikan oleh pejabat publik hendaknya mencerminkan empati yang mendalam. “Bisa memahami dan merasakan emosi dan perasaan orang lain, apalagi bagi yang terdampak langsung dengan karhutla,” ujar Irawan kepada wartawan, Rabu (14/10/2026).
Lebih lanjut, Irawan berpendapat bahwa kepala daerah memiliki peran penting dalam membangun optimisme di tengah masyarakat yang menghadapi bencana karhutla. Pejabat publik seharusnya dapat memberikan keyakinan bahwa penanganan kebakaran akan berhasil hingga tuntas. “Sebaiknya kepala daerah kita membangun optimisme kepada masyarakat kebakarannya akan padam,” tuturnya.
Fraksi Golkar berharap polemik yang timbul dari ucapan Gubernur Kalteng tersebut dapat menjadi pelajaran berharga bagi para kepala daerah lainnya dalam berkomunikasi dengan publik. “Saya kira kritik terhadap Gubernur Kalteng menjadi pembelajaran buat kepala daerah lainnya,” kata Irawan.
Ucapan Gubernur Kalteng yang Menjadi Polemik
Pernyataan Gubernur Kalteng Agustiar Sabran yang dianggap sebagai candaan mengenai penanganan karhutla memang sempat viral di media sosial. Dalam sebuah video yang beredar, Agustiar Sabran merespons pertanyaan wartawan terkait penanganan karhutla.
Agustiar menyatakan bahwa sebagian besar kasus karhutla disebabkan oleh faktor manusia. “Sebenarnya sama aja, takdir juga, tapi banyak ulah manusianya. Hampir 97 persen tuh akibat manusianya,” ungkapnya.
Ia kemudian menambahkan bahwa melawan karhutla memerlukan kebersamaan, dan mengumpamakannya dengan sebuah seloroh: “Karena bersatu kita teguh, bercerai kita kawin lagi.”