JAKARTA – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di Kabupaten Merauke, Provinsi Papua Selatan, mulai meluas dampaknya hingga ke wilayah Kabupaten Mimika. Bupati Mimika, Johannes Rettob, menyatakan pihaknya membutuhkan bantuan dari pemerintah pusat untuk mengatasi situasi ini.
Menurutnya, Kabupaten Mimika menjadi salah satu daerah yang paling merasakan dampak dari karhutla yang terjadi di Merauke. Ia berharap Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dapat segera turun tangan untuk menangani kebakaran tersebut.
“Kami sudah laporkan ke Jakarta supaya Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) harus turun tangan,” ujar Johannes Rettob, mengutip dari Antara.
Akibat kiriman kabut asap dari Merauke, Mimika telah diselimuti asap tebal selama hampir sepekan. Pemerintah Kabupaten Mimika merespons dengan mengeluarkan surat edaran untuk meliburkan sekolah dari jenjang Pendidikan Usia Dini (PAUD) hingga Sekolah Dasar (SD). Sementara itu, siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) tetap diwajibkan mengikuti kegiatan belajar mengajar dengan syarat menggunakan masker.
Johannes Rettob menjelaskan bahwa kebakaran hutan tersebut tidak terjadi di wilayah Mimika. Oleh karena itu, upaya yang dapat dilakukan oleh pemerintah kabupaten adalah langkah-langkah penanggulangan dampak, seperti pembagian masker. “Wilayah kita ini terkena dampak akibat kebakaran hutan itu. Dinas Kesehatan dan BPBD Mimika juga sudah melakukan pembagian masker bahkan rumah sakit kami sudah tingkatkan pelayanannya,” tuturnya.
Pemerintah setempat berupaya melindungi kesehatan warganya dari paparan kabut asap. Namun, ia menekankan bahwa kondisi ini memerlukan penanganan segera dari pemerintah pusat, termasuk upaya pemadaman api di lokasi sumber kebakaran.
Kabut asap yang melanda Mimika telah menimbulkan dampak kesehatan yang signifikan bagi masyarakat. Kualitas udara dilaporkan semakin memburuk, dan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dilaporkan terus meningkat, terutama pada anak-anak.
Selain masalah kesehatan, kabut asap tebal juga mengganggu aktivitas penerbangan di Bandara Mozes Kilangin Timika. Sejumlah maskapai mengalami kesulitan mendarat, dan beberapa penerbangan terpaksa dialihkan ke Jayapura. Gangguan serupa juga terjadi pada pesawat-pesawat kecil yang biasa melayani rute di wilayah tersebut.