Faktor Fisik dan Sosial Rentan Jadikan Murid Sasaran Bullying

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengungkapkan bahwa sejumlah kriteria membuat murid rentan menjadi sasaran perundungan (bullying) di sekolah. Salah satu faktor utamanya adalah perbedaan fisik.

“Murid-murid yang memiliki fisik yang berbeda dari umumnya. Misalnya kalau dia fisiknya terlalu kecil, itu biasanya sering menjadi sasaran kekerasan. Atau terlalu jangkung, atau terlalu besar, dan dan faktor-faktor lain yang mengarah kepada fisik,” ujar Mu’ti dalam sebuah diskusi di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (26/10/2026).

Selain perbedaan fisik, murid dengan kemampuan akademik di bawah rata-rata juga kerap menjadi target. Mu’ti mengategorikan kedua kelompok ini sebagai anak berkebutuhan khusus.

“Dan sebagian dari mereka berdua ini adalah, dua kategori ini adalah anak-anak yang berkebutuhan khusus,” ucapnya.

Faktor sosial juga berperan penting, di mana murid dari keluarga tidak mampu memiliki kerentanan yang tinggi terhadap perundungan. Data menunjukkan kasus di Pemalang yang korbannya berasal dari keluarga desil 1 menjadi contoh nyata.

“Murid-murid dari keluarga tidak mampu itu sangat rentan terhadap perundungan. Kasus di Pemalang yang terakhir misalnya, itu kan dari keluarga desil 1 korbannya,” ucapnya.

Lebih lanjut, Mu’ti menyebutkan bahwa murid yang perilakunya dianggap berbeda juga cenderung menjadi korban. Ini termasuk anak yang sering mengadu ke guru atau yang menunjukkan perilaku menyerupai lawan jenisnya.

“Misalnya yang suka yang suka misalnya mengadu ke gurunya, misalnya dikit-dikit mengadu ke guru, itu cenderung diburu. Atau misalnya mohon maaf yang secara perilaku, mohon maaf sekali mohon maaf sekali, misalnya agak melambai. Laki-laki yang seperti perempuan atau perempuan yang seperti laki-laki, itu cenderung menjadi korban dari perundungan,” jelasnya.

Mu’ti menambahkan bahwa kekerasan di sekolah sering kali dilakukan oleh guru, kakak kelas atau senior, dan lawan jenis. Fenomena ini terjadi karena adanya relasi kuasa dari pihak yang kuat terhadap yang lemah.

“Sehingga kekerasan itu terjadi karena faktor power relation, relasi kuasa dari yang kuat kepada yang lemah,” tegasnya.

Tinggalkan komentar