JAKARTA – Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Bogor menghentikan sementara operasionalnya selama 20 hari menyusul insiden keracunan yang menimpa 103 siswa SMP Negeri di Cisarua. Kejadian ini terjadi setelah para siswa mengonsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kepala KPPG Bogor, Haidir, menyatakan bahwa penangguhan operasional dapur tersebut akan berlangsung sambil menunggu hasil evaluasi dan pengujian sampel dari Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda). “Untuk 20 hari ke depan sambil dievaluasi dan menunggu hasil dari Labkesda, nanti mulai perhari ini sampai 20 hari ke depan dapurnya tidak akan beroperasional, suspend kategori sedang dalam 20 hari,” ujar Haidir kepada wartawan pada Rabu (21/10/2026).
Evaluasi internal akan dilakukan terkait insiden tersebut. Tercatat, total ada 881 siswa yang menerima program MBG di sekolah tersebut. Dari jumlah tersebut, 103 siswa menunjukkan gejala keracunan. Sebanyak 48 siswa akan segera diizinkan pulang, sementara sisanya masih dalam observasi medis.
Haidir menduga susu yang dikonsumsi siswa menjadi penyebab utama keracunan, mengingat gejala muncul setelah para siswa meminumnya. “Dugaan awal sementara karena susu. mereka mengalami gejala setelah minum susu itu,” terangnya.
Sampel Makanan Diuji di Labkesda
Pemerintah Kabupaten Bogor bergerak cepat dengan mengirimkan sampel makanan dan minuman yang dikonsumsi siswa ke Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) untuk diuji. Bupati Bogor, Rudy Susmanto, menjelaskan bahwa hasil uji laboratorium ini akan menjadi dasar penentuan penyebab pasti keracunan.
“Terkait tadi kami menyampaikan ada indikasi keracunan makanan, maka Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor sudah mengambil sampel makanan dan sampel minuman langsung dikirim ke Laboratorium Kesehatan Daerah Pemerintah Kabupaten Bogor,” kata Rudy.
Ia menekankan bahwa prioritas utama saat ini adalah memastikan seluruh siswa mendapatkan penanganan kesehatan yang memadai. “Nanti hasil uji laboratoriumnya keluar, kami baru bisa menyimpulkan apakah ini betul keracunan makanan atau keracunan minuman. Langkah pertama yang kami pastikan adalah anak-anak mendapatkan penanganan kesehatan terlebih dahulu,” jelasnya.
Selain penanganan medis, Pemkab Bogor juga akan segera melakukan rapat evaluasi terkait kegiatan belajar mengajar di sekolah tersebut. Fokus utama tetap pada kesehatan para pelajar. “Setelah ini kami akan segera lakukan rapat evaluasi bersama apakah kita akan liburkan atau dengan mekanisme seperti apa. Karena fokus awal kami sekarang adalah menangani siswa-siswinya dan alhamdulillah semua siswa-siswi dalam kondisi baik,” ujarnya.