Jakarta – Pendaftaran Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026 untuk jenjang SMA, SMK, dan MA telah mencapai angka 3,86 juta peserta. Angka partisipasi yang tinggi ini diharapkan dapat mendorong perbaikan nyata dalam proses pembelajaran di ruang kelas.
Asesmen berbasis daring yang resmi dimulai pada Senin (26/10) ini diklaim siap melayani hingga 900 ribu peserta secara bersamaan. Wakil Ketua MPR, Lestari Moerdijat, mengingatkan bahwa data kompetensi individu hingga tingkat sekolah kini berada di tangan pemerintah.
“Pertanyaannya sekarang, apakah kita semua benar-benar siap mengubah pola pengajaran dan pendampingan?” ujar Lestari dalam keterangan tertulisnya, Minggu (25/10).
Ia menegaskan bahwa TKA harus menjadi peta jalan intervensi yang presisi, bukan sekadar pemetaan di atas kertas. Lestari menyoroti hasil TKA jenjang SD dan SMP pada Mei lalu yang menunjukkan rendahnya nilai rata-rata siswa. Skor numerasi siswa SMP hanya menyentuh 40,34 dan literasi berada di angka 60,83. Tercatat pula hanya 9,67 persen siswa SMP yang masuk kategori baik dalam mata pelajaran matematika.
“Jangan sampai biaya besar untuk pemetaan, tapi tindak lanjutnya minim,” tegas Anggota Komisi X DPR RI tersebut.
Di balik klaim kesiapan sistem, Lestari menyebut pelaksanaan TKA masih menghadapi tantangan infrastruktur dasar. Data pemerintah menunjukkan sekitar 23 persen satuan pendidikan di Indonesia belum terkoneksi jaringan internet. Keterbatasan perangkat ini membuat sejumlah sekolah terpaksa menggelar tes dalam beberapa gelombang.
Kondisi ketidaksetaraan infrastruktur ini dinilai memunculkan pertanyaan tentang keadilan skor hasil tes bagi seluruh peserta.
“Tidak boleh ada kebijakan yang seragam untuk masalah yang berbeda-beda,” tegas Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem tersebut.
Lestari menawarkan sejumlah solusi, antara lain alokasi anggaran untuk program remedial berbasis data. Pemerintah pusat dan daerah diminta tidak hanya membiayai pelaksanaan tes, tetapi juga menggelontorkan dana untuk bimbingan teknis guru dan penyediaan alat peraga yang disesuaikan dengan kelemahan spesifik di masing-masing daerah. Data TKA, menurutnya, harus menjadi dasar alokasi, bukan sekadar laporan.
Selain itu, tambah Lestari, harus ada perubahan pendekatan pembelajaran. Guru didorong beralih dari sekadar mengejar nilai menjadi membangun kompetensi dan karakter. Evaluasi bagi guru perlu diarahkan untuk menumbuhkan nalar siswa, bukan sekadar hafalan.
Yang terpenting, jelas Lestari, adalah membangun komitmen kolektif seluruh pemangku kepentingan. Orang tua diminta tidak terpaku pada peringkat, melainkan mendukung proses belajar yang bermakna di rumah.
“TKA sudah memberi kita peta jalan. Sekarang kita semua harus berani melangkah,” pungkas Lestari.
Dengan pendaftar yang menembus 3,86 juta, TKA 2026 memang menjadi momentum besar. Namun, keberhasilan sejatinya tidak diukur dari lancarnya sistem daring atau tingginya partisipasi, melainkan dari sejauh mana nilai-nilai yang masih kurang itu benar-benar mampu diperbaiki di ruang kelas.