Jakarta – Upaya menjadikan desa sebagai pusat pertumbuhan ekonomi kembali menjadi sorotan, terutama dalam konteks ketahanan pangan nasional. Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan atau Zulhas, menekankan pentingnya peran desa sebagai fondasi utama ketahanan pangan.
Dalam program #ZulhasBikinJelas, Zulhas menjelaskan bahwa program pemerintah saat ini berfokus pada pengembangan setiap desa agar memiliki pusat pertumbuhan ekonomi sendiri. “Oleh karena itu, program kita ingin menjadikan desa itu menjadi pusat-pusat pertumbuhan ekonomi. Setiap desa ada pusat pertumbuhan ekonomi. Maka dibangunlah Koperasi Desa Merah Putih,” ujar Zulhas.
Zulhas menambahkan bahwa skema pembiayaan melalui koperasi desa akan lebih berpihak kepada masyarakat kecil dibandingkan skema yang ada sebelumnya. “Sebagai contoh, skema pembiayaan seperti Mekar di desa dulu bunganya tinggi sekali, bisa mencapai 24 persen. Sekarang melalui Koperasi Desa, kita dorong bunganya turun menjadi 8 persen,” katanya.
Untuk mendalami strategi konkret di balik program ini, program #ZulhasBikinJelas turut menghadirkan Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDTT), Yandri Susanto. Yandri mengungkapkan bahwa salah satu strategi utama adalah program Desa Ekspor.
358 Desa Sudah Tembus Pasar Ekspor
Yandri memaparkan bahwa program Desa Ekspor telah mencakup 358 desa dengan nilai transaksi mendekati Rp1 triliun. Strategi utamanya adalah memangkas rantai distribusi yang selama ini dikuasai tengkulak, dengan menghubungkan desa langsung ke negara tujuan.
“Nah desa ekspor ini memang mendekatkan desa dengan bayarnya. Jadi middleman atau para tengkulak atau rantai pasok yang selama ini panjang, itu kita potong. Jadi dari desa kita sambungkan langsung dengan negara tujuan,” jelas Yandri.
Desa Temon Sukses Ekspor Gula Aren Organik
Sebagai contoh keberhasilan strategi ini, Yandri menyebut Desa Temon di Pacitan yang berhasil mengekspor gula aren organik langsung ke Malaysia, Belanda, dan Australia. “Jadi itu membuat pendapatan petani naik 40%,” imbuhnya.
Strategi Desa Tematik dan Pasar Ekspor
Selain Desa Ekspor, Yandri juga menjelaskan pembentukan desa-desa tematik, seperti desa ayam petelur, desa melon, desa semangka, dan desa jagung. Desa-desa ini diarahkan untuk menyuplai kebutuhan program MBG (Monev Berbasis Gerak) sekaligus pasar ekspor.
“Kita mau produk-produk desa itu menuju negara-negara tertentu yang sekarang masih ada kita punya 49 negara tujuan ekspor,” katanya.
Seluruh strategi ini merupakan bagian dari program besar 12 Aksi Bangun Desa, Bangun Indonesia, yang merupakan turunan dari Asta Cita ke-6. Program ini mencakup berbagai inisiatif seperti Kopdes, Bumdes, Desa Ekspor, Desa Tematik, pemberdayaan pemuda, desa bebas narkoba, serta ketahanan pangan dan air.