Keluarga seorang wanita berinisial AAN, yang menjadi korban tuduhan pencurian amplop hajatan di kawasan Kalibata, Jakarta Selatan, akhirnya buka suara mengenai kronologi kejadian yang dinilainya penuh kekerasan. Sepupu korban, AMK, menceritakan bahwa insiden tersebut bermula saat AAN hendak pulang setelah berolahraga di tempat gym di Kalibata pada Minggu (27/9).
AMK menjelaskan bahwa AAN sedang berjalan kaki di sekitar Taman Makam Pahlawan menuju tempat kosnya sambil mengaktifkan aplikasi Strava. Tiba-tiba, tiga orang pengendara motor menghampiri AAN tanpa bertanya terlebih dahulu. Mereka langsung menuduh AAN mengambil tas amplop hajatan dan melakukan penggeledahan.
“Nah, tiba-tiba ada yang nyamperin pakai motor tiga. Tiga motor langsunglah nggak pakai apa, nggak pakai ditanya apa segala macam, langsung disamperin, dibilang tasnya diambil segala macam, digeledah, sempat ada tarik-menarik,” ujar AMK saat dihubungi, Jumat (2/10/2026).
Menurut AMK, AAN sangat bingung karena tidak mengetahui apa yang dituduhkan kepadanya. Situasi semakin memburuk ketika semakin banyak anggota keluarga pelaku berkumpul mengerubungi AAN.
“Karena kan dari saudara saya juga kan nggak tahu, nggak tahu perkaranya dalam arti kehilangan apa-apanya pun nggak tahu. Kaget kan, gitu kan, syok. Syok, kan. Sempat tarik-menariklah. Dia keluarga dia makin lama makin ramai,” jelasnya.
Dalam kejadian tersebut, AAN mengaku dipukul di bagian pipi kanan hingga hijabnya terlepas. Ia juga sempat terjatuh akibat tarikan tersebut.
“Dipukul pipi kanannya, kan. Terus sampai ada kejadian dia juga kayak gimana ya ngejengkang gitu kan dari pas ditarik kan ah. Kayak kita tarik-tarikan pas dilepas ngejengkang gitu lah,” katanya.
Setelah itu, AAN diduga diarak oleh para pelaku menuju lokasi hajatan keluarga mereka. AMK menggambarkan bahwa AAN dibawa dengan cara yang dramatis.
“Terus saudara saya kan dibawa, kayak diaraklah, kayak diarak pakai naik motor kan dia ramai-ramai. Satu motor itu, jadi saudara saya di tengah, di depannya laki-laki, di belakangnya laki-laki. Jadi dua laki-laki, saudara saya di tengah tuh sambil dipegangin. Dibawa ke gedung mana, ke gedung tempat dia acara hajatan,” lanjut dia.
Di gedung tersebut, AAN ditunjukkan rekaman CCTV. Pelaku sebenarnya yang mengambil amplop dalam rekaman tersebut terlihat mengenakan gamis hitam dan sepatu putih. Namun, AMK menegaskan bahwa ciri-ciri AAN saat itu sangat berbeda.
“Nah, di situ minta rekaman CCTV-nya mana pelakunya. Nah, akhirnya pas dilihat kan baju hitam, akhirnya dia minta dia ganti baju hitam buat dicocokin segala macam, kan. Jelas-jelas itu pun emang sangat jauh berbeda kan sama yang di CCTV,” imbuhnya.
AMK menambahkan bahwa AAN saat kejadian tidak mengenakan baju hitam. Ia memakai kerudung merah, baju garis, celana cokelat, dan sepatu putih. Baju bekas nge-gym yang dibawanya di tas memang ada yang berwarna hitam dan abu-abu.
Tuduhan keluarga pelaku kepada AAN, menurut AMK, hanya didasarkan pada kesamaan warna sepatu putih yang terlihat di CCTV. Pelaku kemudian mencari orang dengan ciri tersebut.
“Sebenarnya berdasarkan CCTV, nih CCTV keluarga yang punya hajatan itu dilihat pelaku malingnya pakai sepatu putih. Nah, jadi keluarga itu kan iya, keluar apa jadi keluarga yang hajatan itu muter tuh. Muter ke luar gedung, kan. Keluar gedung melihat saudara saya lagi jalan pakai sepatu putih, langsung ditabrak,” katanya.
AAN kemudian dikenali oleh sekuriti kantornya yang lokasinya tak jauh dari tempat hajatan. Sekuriti tersebut ikut mengawal AAN ke dalam gedung.
“Sekuriti itu ngenalin, ‘Wah ini karyawan di tempat saya nih,’ Akhirnya sekuriti mendampingi dia ke dalam kantor hajatan. Nah, setelah di kantor hajatan kan udah disamain tuh, dia udah pakai baju hitam, ternyata secara spesifikasi bukan. Sangat beda jauh kan secara yang dituduhkan, akhirnya dilepaskan. Tapi pas dilepaskan itu, namanya posisi saudara saya juga bingung dan syok kan, trauma,” ungkapnya.
Mengenai video permintaan maaf yang beredar, AMK mengklarifikasi bahwa itu adalah permintaan AAN sendiri untuk dijadikan bukti pembelaan diri. AAN khawatir jika video arak-arakan dirinya dituduh mencuri viral di media sosial.
“Itu sebenarnya permintaan maaf itu pada saat kejadian. Pada saat kejadian kan saudara saya kan posisi sendiri. Nggak dikasih buat nelepon keluarga ataupun saudara yang di Jakarta. Nah, sempat saudara saya bingung kan, syok juga,” ucapnya.
“Itu mah bukan permintaan bukan permintaan maaf dari pelaku, itu permintaan maaf yang dimintakan saudara saya, biar misalkan kantornya bisa misalkan kantornya ngelihat nih, ada bukti video dia tersebar “Oh, dia maling gini”, paling enggak dia udah punya pegangan bahwasanya dia dituduh,” tegasnya.
AMK membenarkan bahwa kasus ini telah dilaporkan ke Polres Jakarta Selatan dan berharap proses hukum dapat berjalan sesuai aturan yang berlaku.
“Biar diproses secara hukum ajalah gimana gimana keputusannya kan kita balikin, balik lagi ke pihak yang berwenang,” katanya.