CIBINONG – Wakil Menteri Sosial (Wamensos) Agus Jabo Priyono secara resmi membuka Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Sentra Terpadu Inten Soeweno (STIS) Cibinong, Bogor, Jawa Barat. Sebanyak 92 siswa-siswi mengikuti kegiatan yang bertujuan memberikan kesempatan pendidikan bagi mereka yang terkendala berbagai hal untuk bersekolah.
Agus menjelaskan bahwa kehadiran SKB merupakan wujud nyata upaya pemerintah dalam memfasilitasi masyarakat yang memiliki keinginan untuk melanjutkan pendidikan namun terhalang oleh biaya. Lembaga ini juga menjadi alternatif penting bagi anak-anak yang belum dapat diterima di sekolah formal karena berbagai alasan, termasuk usia atau kemampuan akademis.
“Anak-anak kita yang belum bisa masuk ke sekolah rakyat karena masalah umur, terus kemudian (karena) kemampuan siswa dalam hal pelajaran dan segala macam. Tetapi tetap kemudian Kemensos memfasilitasi anak-anak kita yang belum bisa masuk ke sekolah rakyat, ditampung di SKB-SKB,” ujar Agus dalam keterangannya pada Selasa (6/10/2026), saat membuka MPLS STIS secara daring dari Kantor Kemensos, Jakarta Pusat.
Lebih lanjut, Agus memaparkan bahwa SKB berfungsi sebagai gerbang utama bagi individu yang sebelumnya tidak pernah sekolah, putus sekolah, atau belum mendapatkan akses pendidikan. Melalui SKB, mereka dapat kembali mengenyam pendidikan kesetaraan, mulai dari Paket A (setara SD), Paket B (setara SMP), hingga Paket C (setara SMA). Program ini dirancang terbuka untuk segala usia dengan sistem pembelajaran yang fleksibel dan inklusif, diselenggarakan di sentra-sentra milik Kementerian Sosial.
“Hari ini kita sudah menyaksikan bagaimana Kemensos melalui Direktorat Rehabilitasi Sosial mewadahi anak-anak kita yang belum bisa masuk di sekolah rakyat. Jadi SKB ini adalah saudara dari sekolah rakyat bagi anak-anak kita yang memang ingin melanjutkan pendidikan atau yang ingin bersekolah,” tegasnya.
Rincian 92 siswa yang terdaftar di SKB STIS mencakup 36 siswa jenjang SD (26 laki-laki, 10 perempuan), 41 siswa jenjang SMP (30 laki-laki, 11 perempuan), dan 15 siswa jenjang SMA (11 laki-laki, 4 perempuan).
Pembentukan SKB, kata Agus, merupakan strategi krusial untuk memutus rantai kemiskinan antargenerasi melalui jalur pendidikan. Ia mengutip visi Presiden Prabowo Subianto yang menekankan pentingnya memastikan tidak ada anak yang mewarisi kemiskinan orang tuanya.
“Maka dari itu, kemudian tugas kita, tugas negara, tugas pemerintah adalah menjemput anak-anak dari keluarga yang tidak mampu itu untuk bisa bersekolah,” ungkapnya. Ia menambahkan, di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, seluruh anak Indonesia diharapkan dapat bersekolah untuk menjadi pribadi yang hebat, cerdas, berkarakter kebangsaan kuat, mandiri, berdaya, serta mampu mengangkat harkat diri dan keluarganya.
Agus menutup penjelasannya dengan menyatakan bahwa SKB adalah jembatan emas bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu untuk meraih cita-cita mereka. “Sekolah Rakyat dan SKB ini adalah harapan baru bagi saudara-saudara kita dari keluarga-keluarga yang kurang mampu untuk bisa melanjutkan sekolah. Jadi SKB juga termasuk jembatan emas bagi anak-anak kita untuk bisa mewujudkan apa yang menjadi cita-cita mereka dan mewujudkan apa yang menjadi doa-doa dari orang tua mereka,” pungkasnya.