Wali Kota Jakbar Tawarkan AI untuk Sinkronisasi Data Kemiskinan

Wali Kota Jakarta Barat, Iin Mutmainnah, meluncurkan sebuah buku berjudul ‘Satu Data, Satu Tujuan, AI sebagai Solusi Kemiskinan Jakarta’. Dalam buku tersebut, ia mengemukakan gagasan pentingnya pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) untuk memperbaiki data bantuan sosial (bansos) guna memastikan intervensi penanganan kemiskinan di Jakarta lebih tepat sasaran.

Gagasan ini disampaikan Iin saat diskusi dan bedah buku yang diselenggarakan di Ruang Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin, Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat, pada Senin (12/10/2026). Ia menjelaskan bahwa penulisan buku ini didasari oleh pengalamannya sebagai birokrat yang banyak berinteraksi langsung dengan masyarakat di lapangan.

Iin menyoroti adanya paradoks di Jakarta, di mana kemegahan pembangunan fisik seringkali berdampingan dengan kantong-kantong kemiskinan yang masih ada. “Bahwa Jakarta dihadapi dengan paradoks yang menjadikan sebuah di mana bisa saja Jakarta dilihat dari gedung yang megah, pertumbuhan yang begitu cepat, tingginya proses dalam pembangunan dan semua aspek yang dibutuhkan oleh masyarakat,” kata Iin dalam paparannya.

Ia melanjutkan, “Tetapi di belakang gedung megah itu bisa saja ada satu hal yang kita melihat masih dibutuhkan intervensi yang sangat tinggi terkait dengan bagaimana Jakarta dalam wajah yang berbeda, di mana masyarakatnya masih membutuhkan intervensi yang sangat kuat untuk melihat bahwa Jakarta ini masih banyak tingkat kemiskinannya.”

Salah satu masalah data yang sering terjadi, menurut Iin, berkaitan dengan distribusi program kesejahteraan sosial. Ia mengidentifikasi adanya kesalahan dalam pendataan warga, baik dalam kategori *exclusion error* (warga berhak tidak menerima) maupun *inclusion error* (warga tidak berhak menerima).

“Terjadi sebuah data secara umum kalau kita bicara data ada exclusion error dan inclusion error. Di mana bisa saja data yang seharusnya dia dapat tetapi sebetulnya tidak dapat ternyata di lapangan. Ada juga yang data harusnya tidak dapat ternyata dapat,” paparanya. Masalah ini, lanjut Iin, seringkali menyebabkan warga yang benar-benar membutuhkan tidak tersentuh bantuan, sementara warga yang secara ekonomi lebih mampu justru terdaftar sebagai penerima.

Iin memberikan contoh nyata kondisi kemiskinan di kawasan Tambora, Jakarta Barat, yang padat penduduk. Ia menggambarkan satu rumah semipermanen yang dihuni oleh tiga kepala keluarga, atau lebih dari 10 jiwa. Di sisi lain, ia juga sering mendapati warga yang secara sengaja memohon agar status desil ekonominya diturunkan demi mendapatkan jatah bansos.

Mantan Wakil Wali Kota Jakarta Timur ini juga mengungkap adanya ego sektoral antar-dinas dan ketidaksinkronan antara program pelatihan kerja dengan Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS). “Lalu di mana posisinya? Karena selama ini kita bekerja, sama-sama bekerja, tapi sering kali menyimpan data itu menjadi data sendiri. Sering kali bekerja itu untuk sendiri. Tidak bekerja untuk dibuka atau diketahui orang secara langsung. Perlu surat permohonan, perlu pintu, perlu kenal dulu. Kalau nggak kenal sulit. Enggak dapat informasi,” ungkapnya.

Untuk mengatasi permasalahan ego sektoral tersebut, Iin menilai teknologi AI dapat berperan sebagai jembatan kolaborasi pentahelix, yang melibatkan pemerintah, sektor swasta, akademisi, hingga masyarakat sipil. Ia menekankan bahwa AI bukanlah pengambil kebijakan, melainkan instrumen pendukung untuk mempercepat, memverifikasi, serta memastikan pengolahan data kemiskinan berjalan secara transparan dan akurat.

“Kenapa AI bisa masuk untuk menjadi sebuah teman kita? Karena AI itu bisa menjadi kecepatan dan ketepatan dalam kita berkolaborasi supaya bisa trust. Intinya itu,” tutur Iin. Ia berharap gagasan dalam bukunya dapat diuji dan diimplementasikan secara bertahap bersama seluruh pihak demi menuntaskan persoalan kemiskinan di Jakarta.

“Cara yang paling tepat hari ini dengan teknologi, tapi teknologi yang bijak. Dan kemudian memberikan trust itu perlu bukti, perlu evidence. AI sebagai enabler bisa memberikan evidence yang tepat,” pungkasnya. Acara peluncuran buku ini dihadiri oleh para jajaran Camat dan Lurah di Jakarta, mahasiswa, serta masyarakat umum.

Tinggalkan komentar