Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (F-PKB), Daniel Johan, menyampaikan duka cita mendalam atas gugurnya enam orang petugas dan relawan dalam upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur. Ia mendesak dilakukannya evaluasi menyeluruh terhadap peristiwa tragis tersebut.
Daniel Johan menyatakan bahwa keenam korban telah berjuang menjalankan tugas kemanusiaan untuk menyelamatkan kawasan hutan dan lingkungan. “Kami menyampaikan dukacita sedalam-dalamnya atas meninggalnya 6 orang dalam upaya pemadaman karhutla di Bromo. Mereka telah berjuang menjalankan tugas kemanusiaan untuk menyelamatkan kawasan hutan dan lingkungan,” kata Daniel kepada wartawan, Minggu (25/10/2026).
Ia menekankan pentingnya keselamatan petugas dan relawan yang berada di garda terdepan dalam pemadaman karhutla. Menurut Daniel, mereka harus mendapatkan perlindungan yang memadai. “Pengorbanan ini menjadi pengingat bahwa keselamatan petugas dan relawan tidak boleh diabaikan. Mereka yang berada di garda terdepan harus mendapatkan perlindungan yang memadai,” ujarnya.
Lebih lanjut, Daniel mendorong agar pemetaan risiko dilakukan secara menyeluruh sebelum operasi pemadaman dimulai. Ia menegaskan bahwa penanganan karhutla tidak boleh hanya berorientasi pada kecepatan memadamkan api, melainkan juga harus mempertimbangkan keselamatan personel.
“Penanganan karhutla tidak boleh hanya berorientasi pada seberapa cepat api dipadamkan. Keselamatan orang-orang yang menjalankan tugas juga harus menjadi pertimbangan utama. Setiap operasi pemadaman harus didahului pemetaan risiko, pemantauan arah angin dan pergerakan api, penentuan jalur evakuasi, serta sistem komunikasi yang memungkinkan petugas segera ditarik ketika situasi membahayakan,” jelas Daniel.
Ia juga meminta agar para petugas dan relawan dibekali dengan alat pelindung diri (APD) yang sesuai. Selain itu, ketersediaan alat komunikasi, perlengkapan pertolongan pertama, dan sarana evakuasi juga harus dipastikan sebelum personel diterjunkan ke lokasi kebakaran.
“Pemerintah dan instansi terkait memastikan seluruh petugas maupun relawan dibekali alat pelindung diri (APD) yang sesuai dengan risiko pekerjaan. Perlengkapan tersebut harus mencakup pakaian pelindung, helm, sarung tangan, sepatu lapangan yang sesuai, pelindung mata, serta masker atau respirator yang tepat untuk paparan asap dan partikulat. Ketersediaan alat komunikasi, perlengkapan pertolongan pertama, dan sarana evakuasi juga harus dipastikan sebelum personel diterjunkan ke lokasi kebakaran,” tuturnya.
Daniel juga mendesak pemenuhan kebutuhan dasar seperti makanan dan minuman bagi petugas dan relawan, serta evaluasi menyeluruh terhadap penanganan karhutla di Bromo. “Mendorong evaluasi menyeluruh terhadap peristiwa di Bromo untuk mengetahui penyebab kejadian, kecukupan prosedur keselamatan, kesiapan peralatan, dan langkah mitigasi yang telah dilakukan. Hasil evaluasi tersebut perlu menjadi dasar perbaikan sistem penanganan karhutla, sekaligus memastikan keluarga korban memperoleh perhatian dan dukungan sesuai ketentuan yang berlaku,” ungkap Daniel.
Enam Korban Meninggal Akibat Karhutla Bromo
Jumlah korban meninggal dunia akibat kebakaran hutan dan lahan di kawasan Gunung Bromo bertambah menjadi enam orang. Korban keenam, Suraji (44), warga Desa Lumbang, Kecamatan Lumbang, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, meninggal dunia. Kepala Pelaksana BPBD Jatim Gatot Soebroto menyampaikan duka mendalam atas peristiwa ini.
Berikut adalah enam petugas dan relawan yang meninggal dunia saat pemadaman karhutla di Bromo:
- Sukaris (55)
- Hendra Rony Wagiyanta (33)
- Wisnu Yuda Pratama (25)
- Sefriel Ardiansyah (19)
- Munawi (44)
- Suraji (44)