JAKARTA – Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Soeharto atau Titiek Soeharto, menyatakan bahwa stok beras di wilayah Maluku dalam kondisi aman dan berkualitas baik. Meskipun demikian, ia menekankan pentingnya Perum Bulog untuk bertindak sigap dalam mencegah kenaikan harga beras di pasaran.
Penegasan ini disampaikan Titiek setelah melakukan peninjauan langsung ke gudang Bulog di Ambon, Maluku, pada Senin (12/10/2026). Kunjungan tersebut bertujuan untuk memeriksa ketersediaan stok serta memastikan kualitas beras yang tersimpan.
“Kami meninjau gudang Bulog yang ada di (Ambon) sini untuk melihat sendiri stoknya apakah cukup untuk provinsi ini, kemudian kualitas berasnya apakah bagus atau tidak. Ternyata setelah kami cek, stoknya cukup banyak dan kualitasnya bagus,” ujar Titiek dalam keterangan tertulisnya, Senin (12/10/2026).
Titiek juga menekankan pentingnya menjaga kualitas beras yang disimpan agar tetap layak dikonsumsi oleh masyarakat saat disalurkan. Politikus dari Partai Gerindra ini menyebutkan bahwa Komisi IV DPR RI telah menetapkan kebijakan agar beras yang disimpan di gudang Bulog tidak melebihi usia simpan enam bulan. Hasil pemeriksaan di Ambon menunjukkan tidak ada beras yang disimpan melebihi batas waktu tersebut.
“Kita minta bahwa beras di gudang Bulog tidak ada yang umurnya di atas enam bulan. Tadi kami cek ternyata tidak ada yang di atas enam bulan, dan walaupun ukuran berasnya kecil-kecil, tetapi kualitasnya bagus. Mudah-mudahan ini bisa memenuhi kebutuhan masyarakat di sini,” jelasnya.
Selain memastikan ketersediaan stok beras di Maluku, Titiek Soeharto mengapresiasi pencapaian pengadaan beras oleh Bulog yang telah melampaui target pemerintah. Hingga 8 Oktober 2026, realisasi pengadaan Bulog tercatat mencapai 4.115.014 ton setara beras, atau 102,88% dari target yang ditetapkan pemerintah, dan ini tercapai sebelum akhir tahun.
“Selamat, tadi kita syukuran karena Bulog sudah bisa mencapai target stok empat juta ton setara beras. Selamat untuk Bulog atas prestasinya, mudah-mudahan ini bisa dipertahankan, ditingkatkan lagi, dan senantiasa bisa menjaga stok beras di negeri ini,” ungkap Titiek.
Menurutnya, capaian tersebut merupakan modal penting untuk memperkuat ketahanan pangan nasional. Namun, ia mengingatkan bahwa besarnya stok yang ada harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, terutama dalam menjaga ketersediaan dan keterjangkauan harga beras.
Titiek mengingatkan Bulog memiliki peran strategis dalam menjaga stabilitas harga pangan. Oleh karena itu, pemantauan harga di pasar perlu dilakukan secara aktif agar langkah intervensi dapat segera diambil ketika terjadi kenaikan harga. Ia tidak ingin masyarakat terbebani oleh harga beras yang tinggi, terlebih ketika cadangan pemerintah sebenarnya mencukupi.
“Agar harga beras tidak melambung dan tidak menyusahkan masyarakat, Bulog harus cepat-cepat masuk untuk menetralisir supaya harga beras bisa terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat,” tegas Titiek.
Ia menilai keberhasilan menjaga ketahanan pangan tidak hanya diukur dari jumlah beras yang tersimpan di gudang. Keterjangkauan harga bagi masyarakat juga merupakan elemen penting yang harus dijaga. Oleh sebab itu, keberadaan cadangan beras pemerintah harus dimanfaatkan secara efektif untuk merespons dinamika pasar dan memastikan kelompok masyarakat, terutama yang berdaya beli terbatas, tetap dapat memperoleh beras dengan harga yang wajar.