Sungai Cileungsi di Desa Limusnunggal, Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, mengalami perubahan warna yang drastis menjadi hitam pekat menyerupai oli. Kondisi ini disertai dengan munculnya bau menyengat yang sangat mengganggu kenyamanan warga sekitar.
Pantauan di lokasi menunjukkan bahwa air sungai yang menghitam terlihat jelas di area yang dekat dengan aktivitas warga, termasuk permukiman penduduk. Sungai Cileungsi sendiri merupakan jalur air yang melintasi wilayah Bogor hingga Bekasi, sehingga potensi dampaknya cukup luas.
Bau tidak sedap yang berasal dari aliran sungai tersebut semakin diperparah dengan tumpukan sampah yang menggunung di sekitarnya. Aroma busuk ini bercampur dengan bau sampah, menciptakan lingkungan yang tidak sehat.
Warga yang bermukim di dekat aliran sungai mengaku sangat terganggu oleh bau menyengat yang muncul setiap hari. Salah satunya adalah Monita, yang rumahnya berjarak kurang dari 100 meter dari sungai.
Monita menjelaskan bahwa bau tersebut sering kali mengganggu aktivitasnya, terutama pada malam hari ketika aromanya menjadi semakin kuat. “Kebetulan rumah saya jaraknya dengan sungai itu dekat ya, nggak nyampe 100 meter. Nah, dampak yang langsung yang saya rasakan itu memang bau yang sangat menyengat, dan itu setiap hari,” ujarnya.
Akibat kondisi ini, Monita terpaksa harus menutup pintu rumahnya untuk mengurangi masuknya bau yang tidak sedap. Niatnya untuk menikmati udara segar di pagi hari sering kali terhalang oleh aroma busuk dari sungai. “Setiap buka pintu, niatnya pagi-pagi mau cari udara segar, yang ada langsung bau gitu ya. Dan itu semakin malam itu semakin menyengat,” tuturnya.
Gangguan udara akibat bau tersebut juga berdampak pada kesehatan tenggorokannya. Monita merasa tenggorokannya menjadi tidak nyaman, terasa gatal, dan sering kali dipenuhi dahak. “Nah, yang kedua memang akhirnya kerasa tidak nyaman di tenggorokan, karena bau yang terus-menerus menyengat akhirnya tenggorokan itu menjadi seperti gatal, terus penuh dengan dahak,” jelasnya.
Monita menambahkan bahwa kondisi tenggorokannya yang berdahak ini terjadi meskipun ia tidak sedang mengalami radang, influenza, atau batuk. Ia menduga kuat bahwa hal ini merupakan efek langsung dari pencemaran yang terjadi di Sungai Cileungsi. “Padahal kondisi tidak sedang radang, tidak sedang influenza, tidak sedang batuk, tapi dahak itu selalu ada gitu ya. Nah, saya curiganya ya itu efek langsung dari pencemaran polusi di Sungai Cileungsi itu ya,” katanya.