Strategi Jitu Koperasi Wonokerto Raup Omzet Rp 260 Juta dalam Sebulan

PASURUAN – Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Wonokerto di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, berhasil menorehkan pertumbuhan omzet yang signifikan. Dalam kurun waktu kurang dari setahun, koperasi yang berawal dari modal terbatas ini mampu mencapai omzet gabungan bulanan antara Rp 200 juta hingga Rp 260 juta.

KDMP Wonokerto saat ini mengelola dua unit usaha utama, yaitu gerai sembako dan sarana produksi pertanian. Perkembangan pesat ini tidak lepas dari strategi inovatif yang diterapkan oleh pengurusnya sejak awal berdiri.

Awal Mula dan Modal Terbatas

Kisah sukses KDMP Wonokerto dimulai pada April 2025. Saat itu, koperasi baru memiliki 26 anggota dengan dana terkumpul kurang dari Rp 3 juta. M. Yusril Suhendra terpilih sebagai Ketua KDMP Wonokerto dalam musyawarah desa khusus, menetapkan simpanan pokok Rp 100 ribu dan simpanan wajib Rp 10 ribu per bulan.

“Pada saat itu awal terbentuk kita beranggotakan masih kurang lebih 26 anggota, dan terkumpul dana dari anggota kurang lebih tidak sampai Rp3 juta, Rp2 juta sekian,” ujar Yusril.

Memanfaatkan Fasilitas dan Sistem Konsinyasi

Dengan modal awal yang minim, pengurus tidak membangun fasilitas fisik baru. KDMP Wonokerto memanfaatkan Gedung Serbaguna yang sudah ada, dibangun oleh pemerintah desa. Gedung ini kemudian diubah menjadi minimarket dan mulai beraktivitas penjualan pada Juni 2025.

Tahap awal, koperasi menerapkan sistem konsinyasi untuk mengatasi keterbatasan modal pembelian stok. Barang disuplai oleh mitra seperti Bulog dan ID Food, dengan pembayaran dilakukan setelah produk terjual.

“Karena kita tidak ada modal, sistemnya seperti itu. Supply barang dari Bulog dan ID Food, ada beras, ada gula, ada minyak, ada air mineral waktu itu, di-supply dari sana, dibayar ketika laku,” jelas Yusril.

Koperasi juga bekerja sama dengan pemasok es krim yang meminjamkan freezer, mengingat lokasinya yang berdekatan dengan beberapa sekolah. Produk seperti beras, minyak, gula, air mineral, hingga es krim mulai diperdagangkan.

Perkembangan Pasca Pembiayaan LPDB

Titik balik pertumbuhan KDMP Wonokerto terjadi setelah mendapatkan pembiayaan dari Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB). Koperasi mengajukan Rp 1,3 miliar dan disetujui sebesar Rp 864,4 juta, yang cair pada September 2025. Dana ini digunakan untuk menata gerai dengan pendampingan konsultan ritel selama sekitar 35 hari.

Pada akhir Oktober 2025, minimarket KDMP Wonokerto resmi beroperasi penuh dengan konsep ritel modern. Penambahan variasi barang dagangan dan peningkatan aktivitas perdagangan pun tak terhindarkan. Omzet gabungan yang sebelumnya belum mencapai Rp 50 juta per bulan, kini melonjak menjadi Rp 200 juta hingga Rp 260 juta.

“Untuk omzet kita sebelum ada pembiayaan dari LPDB karena hanya beberapa item saja yang kita jual, satu bulan belum sampai Rp 50 juta. Setelah ada pembiayaan, saat ini kita kurang lebih di Rp 260 juta untuk dua gerai,” tutur Yusril.

Gerai sembako menjadi kontributor terbesar omzet karena tingginya permintaan kebutuhan pokok. Omzet minimarket saat ini berkisar Rp 7 juta-Rp 9 juta per hari.

Membuka Akses Pasar UMKM Lokal

KDMP Wonokerto tidak hanya fokus pada omzet internal, tetapi juga memberdayakan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di sekitarnya. Sejumlah UMKM dapat menitipkan produk mereka di gerai koperasi, seperti asinan mangga, cokelat karakter, es mambo, dan keripik pisang.

Anita Kurniawati, salah satu UMKM yang produk asinan mangganya dititipkan di koperasi, merasakan manfaat langsung. Melalui sistem konsinyasi, produknya dapat menjangkau konsumen yang lebih luas, tidak hanya mengandalkan jaringan pribadi.

Koperasi juga aktif mempromosikan produk UMKM melalui media sosial dan mengikuti pameran di Jakarta untuk memperluas jangkauan pemasaran.

Kolaborasi dengan Warung Sekitar

Menanggapi potensi kekhawatiran dari pemilik toko kelontong lokal, pengurus KDMP Wonokerto memilih pendekatan kolaboratif. Pemilik warung diajak bergabung sebagai anggota dan memanfaatkan koperasi sebagai tempat kulakan.

Pendekatan ini memungkinkan warung-warung di sekitar untuk membeli barang, termasuk LPG, dengan harga lebih murah dari koperasi. Hal ini memungkinkan mereka menjual kembali dengan harga kompetitif, sekaligus memberikan masyarakat akses LPG 3 Kg dengan harga lebih rendah, dari sebelumnya Rp 20 ribu-Rp 21 ribu menjadi sekitar Rp 18 ribu.

Sarana Produksi Pertanian dan Promosi Digital

Selain sembako, KDMP Wonokerto juga menyediakan sarana produksi pertanian seperti pupuk dan pestisida. Unit saprodi ini memudahkan petani lokal mendapatkan kebutuhan mereka tanpa harus keluar desa atau kecamatan. Pemasok bahkan memberikan edukasi mengenai penggunaan produk.

Untuk memperluas jangkauan, koperasi aktif menggunakan media sosial seperti TikTok, Instagram, dan WhatsApp. Konten promosi barang dan layanan, informasi promo, undian, hingga layanan pengaduan dibuat mengikuti tren.

Koperasi juga mengembangkan kartu anggota dengan sistem barcode untuk pencatatan transaksi dan konversi poin yang dapat ditukar pada akhir tahun.

Tantangan dan Rencana Pengembangan

Meskipun mengalami pertumbuhan pesat, KDMP Wonokerto masih menghadapi tantangan, terutama keterbatasan tenaga kerja yang rekrutmennya bergantung pada pendapatan operasional.

Untuk menjaga kelancaran operasional, pengurus dibantu konsultan ritel dan laporan keuangan. Sistem kasir dan pemeriksaan stok berkala menjadi kunci pemantauan.

Ke depan, KDMP Wonokerto berencana mengembangkan usaha baru seperti budidaya ikan lele atau nila, serta menjajaki kerja sama dengan program Makan Bergizi Gratis untuk memasukkan produk lokal ke dalam rantai pasok.

Tinggalkan komentar