BANDA ACEH – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah memberikan dampak positif bagi para siswa di Sekolah Luar Biasa (SLB) Bagian B Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC) Banda Aceh. Program ini tidak hanya meningkatkan semangat belajar, tetapi juga diwarnai cerita unik ketika siswa menyelipkan catatan di atas ompreng untuk meminta menu tertentu.
Saat kunjungan pada Kamis (15/10/2026), para siswa kelas atas terlihat duduk tertata rapi di ruang makan sekolah, menunggu giliran pembagian makanan yang telah disiapkan oleh para guru. Sebelum menyantap hidangan, seluruh siswa bersama-sama melafalkan doa. Menu makan siang itu terdiri dari nasi putih, udang balado, telur, dan buah pisang.
Suasana di ruang makan terasa ceria meskipun interaksi verbal tidak terdengar. Para siswa saling bertukar bahasa isyarat, diselingi gelak tawa dan canda ringan saat menikmati hidangan. Kepala SLB YPAC Banda Aceh, Rahmanita, menuturkan bahwa sekolahnya telah menerima penyaluran makanan gratis ini selama hampir dua tahun.
Dari total 72 murid jenjang TK hingga SMA serta 26 tenaga kependidikan, sekolah menerima 102 porsi setiap harinya. “Alhamdulillah kami lebih kurang hampir 2 tahun menerima program makan gratis ini dan anak-anak sangat antusias dan sangat senang,” kata Rahmanita saat ditemui di sekolah, Kamis (15/10/2026).
Rahmanita mengamati adanya perubahan motivasi belajar anak didiknya sejak rutin mendapatkan asupan makanan bergizi di sekolah, terutama saat kegiatan olahraga. “Banyak perubahannya, terutama saat olahraga, stamina mereka lebih meningkat sehingga lebih antusias menerima pembelajaran,” ujarnya.
Meskipun demikian, Rahmanita menyebutkan bahwa pihaknya harus sedikit menyesuaikan jadwal harian. Jam awal pembelajaran sedikit bergeser karena para siswa makan bersama terlebih dahulu. “Kalau fokus pembelajaran banyak perubahan, cuma ada sedikit perbedaan durasi waktu saat memulai pembelajaran karena mereka harus makan bersama dulu di kelas sebelum menyelesaikan pembelajaran,” imbuhnya.
Berbeda dengan penanganan siswa autisme yang membutuhkan aturan makan ketat, seluruh siswa di SLB YPAC Banda Aceh merupakan penyandang disabilitas tunarungu. Kondisi ini memudahkan penyesuaian menu dengan pihak dapur penyedia. “Anak kita semuanya tunarungu, tidak ada anak autis, sehingga menu yang diberikan tidak banyak kendala. Pihak dapur juga rutin konfirmasi ke kami menu apa yang kira-kira aman dikonsumsi anak-anak,” tuturnya.
Rahmanita menceritakan bahwa para siswa kerap mengekspresikan selera makan mereka melalui tulisan tangan di atas kotak makan. Salah satunya biasanya berkaitan dengan porsi buah. “Pernah di omprengnya itu mereka nulis sendiri. Biasanya kan buah bervariasi, mungkin waktu itu jeruknya agak kecil, mereka nulis ‘jeruknya besar’. Alhamdulillah pihak dapur sangat terbuka menerima masukan dari anak-anak,” ungkapnya.
Di sisi lain, Rahmanita mengungkapkan bahwa keberadaan program makan bergizi ini meringankan beban para orang tua siswa yang mayoritas berasal dari keluarga kurang mampu. Sebagian besar murid yang menempati asrama sekolah berasal dari daerah di luar Banda Aceh, seperti Takengon dan Meulaboh. “Status sosial orang tua di sini banyaknya yang kurang mampu. Yang tinggal di asrama itu orang tuanya banyak yang petani. Karena asrama sekarang dikelola secara mandiri, bantuan makanan ini sangat membantu mereka bertahan sekolah,” ungkap dia.
Pola pembagian makan di sekolah dibagi dalam dua skema. Siswa jenjang SMP dan SMA menyantap makanan bersama di ruang makan asrama, sementara siswa TK hingga SD makan di ruang kelas masing-masing. Tak jarang, siswa yang sudah sarapan di rumah memilih menyisihkan buah untuk dibawa pulang. Mereka ingin menunjukkan makanan yang didapat di sekolah kepada keluarga atau membaginya dengan adik di rumah.
Rahmanita tidak membantah bahwa pada awal penyaluran MBG, sebagian siswa sempat merasa ragu untuk mengonsumsi makanan tersebut. Namun, kini para siswa dapat menyantap makanan bergizi dengan aman. “Awalnya memang ada yang takut-takut karena sering lihat kabar di media. Kami beri pengertian bahwa makanan ini higienis, sehat, dan bagus untuk belajar. Sekarang anak-anak sudah sangat enjoy, bahkan setiap pagi yang ditanyakan ke guru ‘hari ini menu apa?’,” imbuh Rahmanita.