JAKARTA – Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), menyampaikan duka cita mendalam atas meninggalnya mantan Perdana Menteri Jepang, Yasuo Fukuda. SBY mengenang Fukuda sebagai sosok sahabat dan negarawan yang memberikan kontribusi signifikan bagi penguatan hubungan persahabatan antara Indonesia dan Jepang.
Ungkapan belasungkawa tersebut disampaikan SBY melalui akun X resminya pada Selasa (27/10/2026). Pesan duka cita ini ditulis dalam tiga bahasa, yakni Bahasa Indonesia, Bahasa Jepang, dan Bahasa Inggris, menunjukkan kedalaman rasa hormat dan kehilangan yang dirasakannya.
“Beliau telah memberikan kontribusi besar bagi penguatan persahabatan antara Indonesia dan Jepang,” tulis SBY, menegaskan peran penting Fukuda dalam mempererat hubungan bilateral kedua negara.
Lebih lanjut, SBY mengungkapkan bahwa hubungan persahabatan pribadinya dengan Fukuda tetap terjalin erat bahkan setelah keduanya tidak lagi menjabat di pemerintahan. Ia merasa kehilangan yang mendalam atas kepergian Fukuda, seorang sosok yang akan selalu ia kenang.
“Secara pribadi kami memiliki hubungan yang dekat dan baik, bahkan setelah kami tidak bertugas lagi di pemerintahan. Persahabatan tetap terjalin di antara kami. Kepergian beliau merupakan kehilangan yang mendalam bagi saya. Saya akan selalu mengenang beliau, bukan hanya sebagai seorang negarawan, tetapi juga sebagai seorang sahabat. Semoga beliau beristirahat dalam damai,” ujar SBY.
Yasuo Fukuda meninggal dunia pada usia 90 tahun akibat gagal jantung di sebuah rumah sakit di Tokyo pada 22 Oktober lalu, seperti dilaporkan oleh Xinhua. Fukuda, yang lahir pada 16 Juli 1936, merupakan putra dari mantan Perdana Menteri Jepang Takeo Fukuda. Ia meraih gelar sarjana dari Universitas Waseda.
Karier politik Fukuda terbilang cemerlang. Ia terpilih menjadi anggota Parlemen Jepang pada tahun 1990. Pengalamannya di pemerintahan semakin terasah ketika ia menjabat sebagai kepala sekretaris kabinet di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Yoshiro Mori dan Junichiro Koizumi. Puncak kariernya adalah ketika ia dipercaya menjabat sebagai Perdana Menteri Jepang pada September 2007, sebelum akhirnya mengundurkan diri pada September 2008.