Sawah Gayo Lues Pulih Pasca-Bencana, 13 Hektare Siap Panen dalam Dua Pekan

Aceh – Produktivitas areal persawahan di Kabupaten Gayo Lues, Aceh, menunjukkan tanda-tanda pemulihan pasca-bencana. Dari total 217 hektare lahan yang masuk program optimalisasi lahan (opla), sekitar 85 persen di antaranya telah selesai ditanami. Khususnya di Desa Leme, Kecamatan Blangkejeren, seluas 13 hektare diproyeksikan siap untuk dipanen dalam dua minggu ke depan.

Program optimalisasi lahan ini telah berjalan sejak Mei 2026 dengan dukungan anggaran APBN 2026 sebesar Rp998,2 juta, yang dialokasikan Rp4,5 juta per hektare. Tujuan utama program ini adalah mengembalikan kesuburan lahan pertanian yang rusak akibat bencana alam sekaligus memulihkan pendapatan para petani.

Progres Penanaman dan Optimalisasi Lahan

Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian Kabupaten Gayo Lues, Selamat, menjelaskan bahwa pelaksanaan opla pada seluruh lahan sasaran seluas 217 hektare telah rampung. Proses penanaman masih terus berlangsung di sebagian lahan yang tersisa.

“Dari 217 hektare sudah semuanya terlaksana. Untuk penanaman sudah mencapai 85%, yang 15% lagi masih dalam proses,” ujar Selamat dalam keterangan tertulisnya, Senin (12/10/2026).

Pernyataan tersebut disampaikan Selamat saat melakukan peninjauan langsung ke sawah yang terdampak bencana bersama Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera di Desa Leme pada Minggu (11/10) kemarin.

Kerusakan dan Upaya Pemulihan

Tingkat kerusakan sawah akibat bencana bervariasi, mulai dari ringan hingga berat, terutama pada area persawahan yang berdekatan dengan aliran sungai. Mayoritas lahan mengalami kerusakan berupa timbunan lumpur yang terbawa arus air.

“Ada terendam lumpur yang ringan, yang sedang kena lumpur sekitar setengah meter dia. Untuk rusak berat memang dia sudah hanyut,” jelas Selamat merinci tingkat kerusakan.

Selain optimalisasi lahan yang mengalami kerusakan ringan, upaya pemulihan juga mencakup penyaluran bibit unggul, pembersihan saluran irigasi, serta pembangunan sistem irigasi perpipaan untuk memastikan pasokan air yang memadai ke area persawahan.

Target Panen dan Harapan Petani

Pada Mei 2026, Dinas Pertanian Gayo Lues telah mendistribusikan 5 ton bibit kepada 19 kelompok tani. Perkembangan yang menggembirakan terlihat di Desa Leme, di mana lahan seluas kurang lebih 13 hektare kini telah memasuki masa mendekati panen.

“Dua minggu lagi siap panen. Lahan 13 hektare di sini biasanya kemarin dalam 1 hektare itu sekitar 4 ton. Kami usahakan saat ini lebih dari 4 ton. Target kita sekitar di atas 5 ton per hektare,” ungkap Selamat mengenai potensi hasil panen.

Laporan perbaikan kondisi tanaman juga mulai diterima dari berbagai kelompok tani setelah program opla dan penyediaan sarana pertanian dilaksanakan. Hal ini menjadi indikasi awal yang positif mengenai pemulihan lahan yang sebelumnya terdampak timbunan lumpur dan gangguan pasokan air.

Ketua Kelompok Tani Bur Lintang di Desa Leme, M. Naen (63), turut menyampaikan optimisme. Ia menyatakan bahwa lahan seluas 8,67 hektare yang dikelola oleh 32 anggota kelompoknya kini mulai pulih berkat optimalisasi lahan dan perbaikan saluran irigasi yang telah diselesaikan.

“Alhamdulillah airnya bagus. Sudah dibantu juga pembersihan parit, pembuatan apa beton sikit (sedikit) dan bibit. Bulan 10 ini siap panen,” ujar M. Naen, menandakan harapan akan hasil panen yang baik di Oktober 2026.

Tinggalkan komentar