Rantang Kasih Banyuwangi: Makanan Bergizi Tiap Pagi untuk Lansia Dhuafa

BANYUWANGI – Setiap pagi, tepatnya sekitar pukul 06.30 WIB, Elok Susanti memulai rutinitasnya mengantarkan makanan ke rumah Sahani (67). Sahani, seorang lansia yang hidup sebatang kara di Kecamatan Banyuwangi, merupakan salah satu penerima manfaat program Rantang Kasih. Bagi Sahani, bantuan ini lebih dari sekadar makanan, melainkan bentuk perhatian yang menghangatkan hari-harinya di usia senja.

Sahani, yang telah lama ditinggal suaminya dan tidak memiliki anak, mengungkapkan rasa syukurnya atas makanan gratis yang diberikan setiap hari oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi. Rasa syukur serupa juga dirasakan oleh Samsiyah (69), warga Kelurahan Sobo, yang kini tidak lagi direpotkan dengan urusan makanan sehari-hari.

“Alhamdulillah, saya setiap hari diantar makanan. Semoga Ibu Bupati selalu sehat, yang memasak dan mengantar makanan saya setiap hari juga saya doakan sehat dan banyak rezekinya,” ujar Sahani dalam keterangan tertulisnya, Jumat (23/10/2026).

Kepedulian terhadap para lansia menjadi alasan utama Pemkab Banyuwangi untuk terus melanjutkan program Rantang Kasih. Di tengah upaya efisiensi anggaran, Bupati Ipuk memastikan program pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat ini tetap berjalan.

“Di tengah efisiensi, kami terus melanjutkan program-program yang bermanfaat bagi masyarakat. Salah satunya Rantang Kasih ini, yang memang sangat dibutuhkan oleh warga lansia kami,” ungkap Ipuk.

Sejak pertama kali digulirkan pada tahun 2017, program Rantang Kasih telah berhasil menjangkau lebih dari 8.000 lansia miskin di Banyuwangi. Khusus untuk tahun 2026, Pemkab Banyuwangi mengalokasikan anggaran sebesar Rp 6,1 miliar. Dana tersebut disiapkan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi sekitar 839 lansia penerima manfaat.

Pelaksanaan program Rantang Kasih juga mendapat dukungan dari pemerintah desa, Baznas Banyuwangi, serta tanggung jawab sosial perusahaan melalui program Corporate Social Responsibility (CSR). Bupati Ipuk berharap kolaborasi ini dapat menjangkau lebih banyak lansia, mengingat keterbatasan anggaran pemerintah.

Sementara itu, Elok Susanti, yang bertugas sebagai pengantar makanan, merupakan kader Dasawisma dan PKK yang mengusulkan Sahani sebagai penerima manfaat. Aktivitas mengantar makanan ini baginya bukan sekadar menjalankan tugas, melainkan ladang amal harian. Ia bahkan turut memantau kondisi kesehatan para lansia secara langsung.

Jika menemukan ada lansia yang sakit, Elok akan segera melaporkannya kepada bidan posyandu agar dapat segera mendapatkan pemeriksaan di rumah. Melalui program Rantang Kasih, Pemkab Banyuwangi berupaya memastikan para lansia yang hidup dalam keterbatasan tetap memperoleh makanan bergizi. Program ini tidak hanya sekadar bantuan pangan, tetapi juga telah sukses menjadi ruang gotong royong yang mempertemukan pemerintah, tenaga kesehatan, pelaku usaha, dan masyarakat untuk saling merawat sesama.

Tinggalkan komentar