Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menghentikan sementara proyek pembangunan pusat data berbasis kecerdasan buatan (AI) yang berlokasi di kawasan Jatiluhur. Keputusan ini diambil demi menegakkan aturan perizinan dan melindungi hak serta kepentingan masyarakat setempat.
Dedi Mulyadi menjelaskan bahwa pembangunan tersebut dihentikan karena izin mendirikan bangunan (IMB) dan Analisis Dampak Lingkungan (AMDAL) belum diterbitkan. Ia menyatakan, “Ketika saya tanya kemarin, Izin Mendirikan Bangunan (IMB) belum keluar. Amdalnya sudah keluar belum? Belum. Ya saya bilang jangan dulu dilaksanakan (pembangunan). Kan izinnya tidak keluar.” Ia menambahkan bahwa kesalahan bukan terletak pada pemerintah daerah, melainkan pada konsultan yang belum menyelesaikan administrasi.
Gubernur menegaskan bahwa kebijakan ini diambil berdasarkan kewenangan provinsi dan kabupaten secara adil dan objektif. Izin AMDAL, yang merupakan kewenangan dinas lingkungan setempat, menjadi salah satu faktor penentu. Dedi Mulyadi juga telah meminta masukan dari akademisi Universitas Indonesia terkait pembangunan pusat data AI ini.
“Bagi saya pribadi, kalau secara objektif Amdal lulus, ya saya tidak ada masalah untuk dilaksanakan. Kalau menurut Amdalnya tidak boleh, ya saya tidak ada masalah juga dihentikan. Tapi satu catatan, warga Purwakarta yang berkorban untuk kepentingan Jatiluhur harus mendapat akses air. Tidak boleh terganggu,” tegasnya.
Mengenai pasokan air untuk pusat data AI, Dedi Mulyadi memastikan bahwa kebutuhan tersebut dapat dipenuhi dari Waduk Jatiluhur. Pasokan air akan diambil dari kuota yang diperuntukkan bagi PDAM Kabupaten Purwakarta, yang memiliki jatah 3.000 liter per detik. Saat ini, pemanfaatan jatah tersebut baru mencapai 380 liter per detik atau sekitar 11%.
“PDAM dikasih jatah 3.000 liter per detik. Baru dipakai selama berpuluh-puluh tahun hanya 380 liter per detik, baru dipakai 11% dari jatah yang diberikan. Kalau dari jatah yang diberikan dari 100% baru dipakai 11%, berarti ada 89% air yang tidak dimanfaatkan oleh PDAM. Sekarang dipakai lagi sebanyak 14% oleh perusahaan. Masih kurang apa nyisa? Nyisa. Sederhana,” pungkasnya.
Sebelumnya, Dedi Mulyadi telah mengunjungi lokasi pusat data AI di Jatiluhur pada Selasa, 28 Juli. Kunjungan tersebut bertujuan untuk memastikan bahwa investasi senilai Rp3,5 triliun ini dilakukan di area yang aman dari bencana, serta pasokan air dan listriknya memadai.