Presiden Prabowo: Cek Kesehatan Gratis Capai 105 Juta Peserta, Investasi SDM Jangka Panjang

JAKARTA – Dalam dua tahun masa kepemimpinan Presiden RI Prabowo Subianto, program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang diluncurkan Februari 2025 telah menjangkau 105 juta orang hingga 4 Oktober 2026. Program skrining medis gratis ini dirancang untuk semua kalangan, mulai dari balita hingga lansia, sebagai upaya strategis dalam meningkatkan kualitas kesehatan dan produktivitas masyarakat.

Melalui CKG, masyarakat dapat mendatangi puskesmas terdekat untuk mengetahui status kesehatan dan mendeteksi dini risiko penyakit seperti kardiovaskular, diabetes melitus, dan tuberkulosis. Presiden Prabowo menekankan bahwa program ini bertujuan memperluas akses layanan kesehatan, terutama bagi mereka yang memiliki keterbatasan, serta mencegah penyakit kronis yang membutuhkan biaya pengobatan tinggi.

Lebih dari sekadar pencegahan penyakit, CKG dipandang sebagai investasi jangka panjang dalam pengembangan sumber daya manusia (SDM) Indonesia. Dengan menjaga kesehatan, masyarakat diharapkan dapat tetap produktif, meningkatkan taraf hidup, dan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi nasional. “Ini adalah program peningkatan produktivitas. Para ahli saya menyatakan bahwa dalam jangka panjang, kita akan menghemat miliaran dolar AS,” ujar Prabowo saat menyinggung CKG dalam pidatonya di World Economic Forum.

Pemerintah menargetkan CKG dapat dimanfaatkan oleh 130 juta orang pada akhir tahun ini, dengan upaya perluasan jangkauan dan peningkatan kualitas pelaksanaan. Presiden Prabowo dalam pidato kenegaraannya pada 14 Agustus lalu menegaskan komitmen negara untuk menjaga kesehatan rakyat sebelum sakit berat. “Negara harus menjaga kesehatan rakyat sebelum mereka sakit berat,” katanya.

Program CKG tidak hanya berfokus pada jumlah peserta, tetapi juga pada analisis potensi risiko kesehatan untuk merumuskan kebijakan strategis. Kementerian Kesehatan mengidentifikasi tiga masalah kesehatan utama yang paling banyak dialami peserta: dislipidemia (gangguan kadar lemak darah), hipertensi, dan diabetes. Berdasarkan temuan ini, pemerintah memberikan tata laksana pengobatan dan perawatan gratis untuk membantu masyarakat mengendalikan faktor risiko dan menerapkan pola hidup sehat.

Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono menyatakan bahwa upaya skrining dan tata laksana ini telah membantu masyarakat mengendalikan faktor risiko sejak dini. Data rekam medis peserta CKG tahun lalu menunjukkan, dari 6,81 juta peserta yang terdiagnosis hipertensi, 46,9% di antaranya memiliki tekanan darah terkendali setelah kembali mengikuti CKG tahun ini. Sementara itu, dari 1,02 juta peserta yang terdiagnosis diabetes melitus, 69,4% berhasil mengendalikan kadar gula darahnya.

Dante meyakini tren positif ini akan berkontribusi pada pencegahan satu dari empat kasus stroke dan penyakit kardiovaskular pada 2035. Dampaknya diharapkan dapat meningkatkan angka harapan hidup Indonesia dari rata-rata 71-72 tahun menjadi 76-78 tahun. “Jadi, manfaatnya (CKG) baru terasa di tahun 2035, tapi sudah kita mulai kerjakan dari sekarang. Jadi, sampai 10 tahun nanti kita benar-benar akan merasakan manfaatnya,” pungkas Dante.

Tinggalkan komentar