Prabowo Perintahkan Gambut Basah Kembali, BPGMN Libatkan Ahli dan Masyarakat

Presiden Prabowo Subianto telah melantik Satyawan Pudyatmoko sebagai Kepala Badan Pengelolaan Gambut dan Manggrove Nasional (BPGMN) dan Mayjen Sriyanto sebagai Wakil Kepala BPGMN. Usai pelantikan, Satyawan mengungkapkan arahan langsung dari Presiden Prabowo terkait penanganan masalah gambut yang kerap berulang saat musim kemarau.

Menurut Satyawan, arahan utama dari Presiden Prabowo adalah agar BPGMN mampu mengelola gambut sedemikian rupa sehingga potensi kebakaran dapat ditekan saat musim kemarau ekstrem. Tujuannya adalah untuk menjaga kehidupan masyarakat dan kesehatan publik dari dampak buruk kebakaran hutan dan lahan gambut.

Selain fokus pada pengelolaan gambut, BPGMN juga memiliki mandat untuk mengelola dan melindungi ekosistem mangrove, mengurangi deforestasi mangrove, serta memulihkan ekosistem gambut dan mangrove yang telah rusak akibat kebakaran atau deforestasi.

Satyawan menjelaskan bahwa salah satu penyebab utama gambut menjadi kering dan rentan terbakar adalah upaya perubahan sifat alaminya. “Gambut yang terbakar karena ada upaya mengubah sifat alami, dari yang basah dan lembap menjadi kering. Hal ini, kata Satyawan, merupakan masalah utama dalam pengelolaan gambut di Indonesia,” ujarnya.

Untuk mengatasi masalah ini, Satyawan menyatakan akan segera menyusun rencana bersama Wakil Kepala BPGMN untuk mengembalikan kondisi gambut agar kembali lembap dan basah. Ia mengidentifikasi kanal-kanal yang banyak dibuat di lahan gambut sebagai sumber kekeringan utama. Padahal, kubah gambut seharusnya berfungsi sebagai penyimpan air alami.

“Sering kali kubah gambut justru dibuat kanal, padahal kubah tersebut merupakan menara air. Akibatnya, ketika musim kemarau seperti sekarang, air dari kubah sudah habis,” ungkap Satyawan. Solusi yang akan diterapkan meliputi pemetaan kanal dan pembuatan sekat kanal untuk mencegah air ter-drainase secara deras.

Dalam pelaksanaannya, BPGMN akan menggandeng masyarakat untuk berperan aktif dalam pengelolaan gambut. Fokusnya adalah mendorong budidaya komoditas yang ramah terhadap kondisi gambut, seperti sagu, jelutung, dan nanas, agar perlindungan gambut tidak menghambat perekonomian masyarakat.

Lebih lanjut, Satyawan menegaskan bahwa BPGMN akan melibatkan akademisi dan para pakar untuk memberikan masukan dalam pengelolaan ekosistem gambut dan mangrove. Dukungan sains yang canggih, termasuk pemodelan untuk memprediksi kekeringan dan pemetaan risiko kebakaran, akan menjadi bagian penting dari strategi badan ini. Struktur organisasi BPGMN nantinya akan mencakup kelompok ahli di bidang hidrologi gambut, revegetasi gambut, dan sosial ekonomi, serta kelompok ahli khusus untuk mangrove.

Tinggalkan komentar