JAKARTA – Bencana besar yang dipicu oleh sambaran petir terjadi di Dronka, Mesir, pada 2 November 1994. Peristiwa tragis ini tercatat sebagai rekor dunia untuk jumlah kematian tertinggi akibat sambaran petir tidak langsung, merenggut ratusan nyawa.
Saat itu, desa Dronka yang berpenduduk sekitar 10.000 jiwa di kawasan Assiut, Mesir Selatan, dilanda badai petir yang sangat parah. Fenomena alam ini tidak hanya menyebabkan banjir bandang, tetapi juga memicu insiden mematikan ketika kilatan petir menyambar tiga tangki penyimpanan minyak di sebuah depot militer.
Setiap tangki tersebut diperkirakan berisi sekitar 5.000 ton bahan bakar pesawat atau diesel. Lokasi tangki minyak yang berdekatan dengan jalur rel kereta api menjadi krusial. Jalur rel tersebut runtuh setelah tergenang oleh air banjir yang mengalir deras di belakangnya.
Bahan bakar yang terbakar akibat sambaran petir kemudian terseret oleh arus banjir bandang. Api melintasi jalanan dan langsung menjalar ke area pemukiman penduduk desa Dronka, menimbulkan kepanikan dan kobaran api yang meluas.
Data resmi yang dikeluarkan oleh World Meteorological Organization (WMO) dan Kementerian Kesehatan Mesir mencatat sebanyak 469 orang tewas secara langsung akibat kebakaran tangki minyak tersebut. Meskipun demikian, beberapa studi menyebutkan angka korban tewas bervariasi, antara 200 hingga 530 orang, termasuk mereka yang tewas akibat luka bakar api maupun tenggelam dalam banjir bandang.
Bencana di Dronka ini menjadi salah satu peristiwa langka di dunia, di mana sambaran petir tidak langsung dapat memicu serangkaian kejadian yang mengakibatkan hilangnya ratusan nyawa dalam waktu singkat.