Jakarta – Anggota Dewan Pertimbangan Presiden RI sekaligus Ketua MPR RI, Bambang Soesatyo atau Bamsoet, meyakini Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi kekuatan utama dalam industri kendaraan listrik global. Ia menekankan bahwa elektrifikasi kendaraan roda dua dapat menjadi langkah strategis untuk memperkuat ketahanan energi nasional.
“Indonesia memiliki modal yang luar biasa besar untuk mengembangkan kendaraan listrik. Tantangannya sekarang adalah bagaimana mengubah potensi tersebut menjadi kekuatan industri nasional. Kita harus memastikan kendaraan listrik yang digunakan masyarakat semakin banyak diproduksi di Indonesia, melibatkan tenaga kerja lokal, menggunakan komponen dalam negeri, dan membangun kemampuan teknologi nasional,” ujar Bamsoet saat menghadiri peluncuran sepeda motor GODA Galatic Series di Jakarta, Minggu (11/10/2026).
Acara tersebut turut dihadiri oleh Wakil Ketua Komisi I DPR RI Dave Laksono, anggota Komisi III DPR RI Sudin, Direktur BAIS TNI Brigjen TNI Sansan Iskandar, dan Staf Khusus Wakil Presiden Achmad Adhitya.
Bamsoet, yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Pembina Ikatan Motor Indonesia (IMI), menjelaskan bahwa peluang besar tersebut tercermin dari kekuatan pasar sepeda motor nasional. Data dari Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) mencatat penjualan sepeda motor di dalam negeri sepanjang tahun 2025 mencapai 6.412.769 unit.
Angka penjualan ini menunjukkan bahwa sepeda motor masih menjadi sarana mobilitas utama masyarakat Indonesia. Selain itu, pasar ini juga dinilai sangat potensial untuk dilakukan elektrifikasi secara bertahap. Pemerintah sendiri telah menetapkan target ambisius untuk pengembangan sekitar 13 juta sepeda motor listrik pada tahun 2030, termasuk kendaraan listrik roda dua yang beroperasi di jalan raya.
“Target 13 juta motor listrik pada tahun 2030 harus disertai langkah nyata. Masyarakat akan beralih jika kendaraan listrik terbukti ekonomis, aman, nyaman, dan mudah dirawat. Karena itu, keberhasilan transisi tidak cukup diukur dari jumlah kendaraan yang terjual, tetapi juga dari kepercayaan dan kepuasan penggunanya,” kata Bamsoet.
Lebih lanjut, Bamsoet memaparkan bahwa keberhasilan industri kendaraan listrik harus diukur dari penguatan manufaktur nasional, penciptaan lapangan kerja, peningkatan kandungan lokal, dan pengurangan ketergantungan pada Bahan Bakar Minyak (BBM) impor. Kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, lembaga riset, dan masyarakat menjadi kunci agar Indonesia mampu memanfaatkan momentum transisi energi ini.
“Indonesia memiliki modal pasar yang besar. Sekarang saatnya mengubah potensi tersebut menjadi kekuatan industri. Kita harus bergerak bersama membangun kendaraan listrik yang mandiri, kompetitif, dan berkelanjutan demi kemandirian energi serta masa depan ekonomi Indonesia,” urai Bamsoet.
Bamsoet menambahkan, rencana pemerintah untuk memberikan insentif kepada perusahaan Indonesia yang mampu memproduksi satu juta sepeda motor listrik di dalam negeri perlu diarahkan untuk memperkuat kapasitas manufaktur dan rantai pasok nasional. Ia menekankan pentingnya insentif yang tepat sasaran.
“Insentif harus tepat sasaran dan memberikan manfaat nyata bagi perekonomian. Kita membutuhkan industri yang mampu menghasilkan produk berkualitas dengan harga kompetitif, memperluas lapangan kerja, dan mengembangkan teknologi sendiri. Jangan sampai produksi meningkat, tetapi ketergantungan terhadap komponen impor tetap tinggi,” pungkas Bamsoet.