JAKARTA – Wakil Menteri Sosial (Wamensos) Agus Jabo Priyono menekankan pentingnya penguatan perlindungan sosial (perlinsos) dan pemberdayaan bagi lanjut usia (lansia) dalam menghadapi perubahan demografi di Indonesia. Ia mendorong agar upaya ini dilakukan melalui layanan sosial yang terintegrasi, dukungan bagi lansia rentan, serta pengembangan ekonomi perak yang inklusif.
Ekonomi perak merujuk pada sistem ekonomi yang berfokus pada pasar, produk, dan layanan yang ditujukan bagi penduduk lanjut usia. Agus Jabo menyatakan bahwa Peringatan Hari Lanjut Usia Internasional (HLUIN) menjadi momentum krusial untuk memperkuat komitmen dalam menghadapi tantangan demografi.
Pernyataan ini disampaikan Agus Jabo saat menghadiri peringatan HLUIN 2026, peluncuran buku tentang lansia, dan Kick-off Pengembangan Ekonomi Perak yang diselenggarakan di Kantor Kementerian PPN/Bappenas, Jakarta. Ia menyoroti data Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 yang menunjukkan proporsi penduduk lansia di Indonesia telah mencapai 11,97 persen dan diproyeksikan meningkat menjadi 20,31 persen pada tahun 2045. Ini berarti, sekitar satu dari lima penduduk Indonesia diperkirakan akan berusia lanjut.
Lebih lanjut, data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025 mengungkap bahwa 41,75 persen lansia berada dalam rumah tangga pada kelompok 40 persen terbawah berdasarkan pengeluaran per kapita. Selain itu, 44,02 persen lansia melaporkan mengalami keluhan kesehatan. Kondisi ini menegaskan perlunya kebijakan yang tidak hanya melindungi lansia dalam kondisi rentan, tetapi juga membuka kesempatan bagi mereka yang masih memiliki potensi untuk berkontribusi dalam kehidupan sosial dan ekonomi.
Kementerian Sosial memprioritaskan tiga agenda utama dalam menghadapi penuaan penduduk: memperkuat perlindungan sosial bagi lansia rentan, mengembangkan layanan lansia yang terintegrasi, dan mendorong pemberdayaan melalui ekonomi perak. Melalui program Asistensi Rehabilitasi Sosial (ATENSI), Kemensos berkomitmen memberikan pelayanan berbasis asesmen kebutuhan dengan pendekatan keluarga, komunitas, dan residensial.
Penguatan layanan ATENSI diarahkan untuk memastikan lansia miskin, lansia yang hidup sendiri, penyandang disabilitas, serta lansia yang membutuhkan dukungan perawatan memperoleh pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Selain perlindungan sosial, layanan bagi lansia perlu mencakup aspek sosial, kesehatan, perawatan jangka panjang, dan dukungan psikososial.
Agus Jabo menambahkan bahwa penguatan sistem layanan berbasis komunitas melalui pendampingan, rujukan, dan pemantauan berkelanjutan diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup lansia sekaligus mengurangi beban perawatan yang sering kali ditanggung oleh keluarga. Dalam pengembangan ekonomi perak, Kemensos mendukung inisiatif Bappenas untuk mengubah perubahan demografi menjadi peluang pertumbuhan ekonomi yang inklusif.
Dua sektor strategis yang diidentifikasi dalam ekonomi perak adalah pengembangan senior living atau hunian ramah lansia, serta industri alat bantu dan teknologi asistif yang mendukung mobilitas, keselamatan, dan kemandirian lansia. “Kementerian Sosial siap berkontribusi sesuai tugas dan kewenangannya, khususnya untuk memastikan lansia rentan tidak tertinggal dalam pengembangan ekonomi perak,” tegas Agus Jabo.
Ia menekankan bahwa keberhasilan ekonomi perak tidak hanya diukur dari pertumbuhan industri dan investasi, tetapi dari peningkatan kesejahteraan, kemandirian, dan martabat lansia. Agus Jabo berharap peluncuran buku kelanjutusiaan dapat memperkuat penyusunan kebijakan berbasis data dan bukti, sementara pengembangan ekonomi perak menjadi awal kolaborasi nyata yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Kegiatan tersebut turut dihadiri oleh Wakil Menteri PPN/Wakil Kepala Bappenas Febrian Alphyanto Ruddyard, Deputi Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Kependudukan, dan Ketenagakerjaan Kementerian PPN/Bappenas Maliki, serta Wakil Duta Besar Australia untuk Indonesia Gita Kamath.