Wakil Ketua MPR RI dari Fraksi PAN, Eddy Soeparno, menekankan bahwa transisi energi di Indonesia harus dikelola secara terencana dengan memperhatikan tiga pilar utama: pertumbuhan ekonomi, ketahanan energi, dan upaya penurunan emisi.
Pernyataan ini disampaikan Eddy saat menjadi pembicara kunci dalam Diskusi Panel High-Level Policy Dialogue yang bertema ‘Coal in the Energy Transition: Balancing Sustainability, Security & Economic Growth’ di Hotel Indonesia Kempinski Jakarta. Diskusi ini diselenggarakan oleh Dewan Energi Nasional (DEN), IndefGTI, dan Bina Astacita (BA) Center.
Acara tersebut secara khusus membahas posisi batu bara di masa depan dalam menjaga ketahanan energi nasional sekaligus mendukung transformasi ekonomi Indonesia. Eddy Soeparno berpendapat bahwa pemanfaatan batu bara tidak dapat hanya dinilai dari sisi emisi karbonnya semata.
Di tengah ketidakpastian geopolitik global dan disrupsi rantai pasok energi dunia, batu bara dinilai masih memegang peranan krusial dalam menjamin ketersediaan energi di dalam negeri. “Saya ingin memberikan perspektif dan konteks yang agak sedikit berbeda terkait batu bara. Tetapi tujuannya satu, bagaimana kita bisa menjadikan batu bara sebagai salah satu komoditas andalan kita ke depannya, tidak kita tinggalkan begitu saja,” ujar Eddy.
Ia menegaskan, “Batu bara masih menjadi bagian penting dari sistem energi dan perekonomian Indonesia. Karena itu, transisinya harus dikelola dengan memperhitungkan ketahanan energi, pertumbuhan ekonomi, dan penurunan emisi secara bersamaan.”
Eddy mengungkapkan bahwa kebutuhan akan energi yang andal semakin vital di era ketidakpastian global. Indonesia dinilai memiliki keunggulan karena sebagian besar pasokan listrik nasional masih ditopang oleh batu bara. Ia mencontohkan peristiwa gangguan di Selat Hormuz yang langsung berdampak pada pasokan energi negara-negara lain, memaksa Singapura mencari pasokan gas alam cair (LNG) untuk memenuhi kebutuhan listriknya.
Menurut data yang disampaikannya, batu bara masih menopang sekitar 65% kebutuhan listrik nasional pada tahun 2026 dan berkontribusi sekitar 3,6% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Produksi batu bara nasional pada 2025 tercatat mencapai 817,48 juta ton, dengan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari sektor mineral dan batu bara sebesar Rp130,2 triliun.
Menghadapi perubahan pasar global, Eddy mendorong strategi hilirisasi dan dekarbonisasi sebagai langkah antisipasi terhadap penurunan permintaan batu bara Indonesia. “CCS dapat digunakan untuk menekan emisi dari PLTU yang masih beroperasi, sementara hilirisasi dapat meningkatkan nilai tambah batu bara,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Eddy menekankan bahwa penurunan peran batu bara harus diimbangi dengan kesiapan energi pengganti. Pemerintah perlu memastikan ketersediaan Energi Baru Terbarukan (EBT) yang andal, infrastruktur transmisi, sistem penyimpanan energi, serta sumber energi transisi lainnya sebelum melakukan pengurangan batu bara secara signifikan. “Transisi energi harus dipersiapkan dari sekarang. Kita perlu memastikan energi tetap tersedia, investasi tetap berjalan, dan pekerja serta daerah penghasil batu bara memiliki kesiapan dalam transisi energi menuju ekonomi hijau,” katanya.
Ia menyebutkan bahwa pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) telah memiliki sejumlah regulasi yang mendukung, termasuk yang berkaitan dengan nilai ekonomi karbon dan *waste to energy*. “Kita saat ini sudah memiliki peraturan terkait nilai ekonomi karbon, Perpres 110 Tahun 2025, termasuk juga ada Perpres 109 Tahun 2025, di mana kita membahas tentang *waste to energy*,” ujar Eddy.
Selain itu, Eddy juga menyinggung Rancangan Undang-Undang (RUU) Energi Baru dan Energi Terbarukan (EBET) yang masih terus dibahas. Ia juga menyebutkan adanya RUU Pengendalian Perubahan Iklim yang Berkeadilan, yang diharapkan dapat menjadi payung hukum komprehensif untuk pengurangan emisi karbon, adaptasi, mitigasi, *loss and damage*, hingga pengaturan nilai ekonomi karbon. “Mudah-mudahan proses transisi energi kita berjalan dengan lancar, proses hilirisasi batu bara yang kita miliki itu juga bisa berjalan dan bermanfaat untuk kita semua,” tutupnya.