Menjelang dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mendapat apresiasi positif. Ia dinilai sebagai menteri dengan kinerja terbaik oleh pakar komunikasi politik, Emrus Sihombing.
Dalam evaluasi kabinet, Emrus mengidentifikasi Kementerian Pertanian (Kementan) sebagai satu-satunya kementerian yang menunjukkan kinerja menonjol. “Menteri yang bagus kinerjanya belum tampak, kecuali Kementerian Pertanian. Karena itu, satu-satunya kementerian yang bagus kinerjanya hanya Kementerian/Menteri Pertanian (Andi Amran Sulaiman),” ujar Emrus dalam keterangan tertulisnya, Rabu (14/10/2026).
Emrus menekankan bahwa evaluasi kinerja kementerian dan lembaga harus selalu bertumpu pada capaian konkret. Institusi pemerintah dituntut mampu menjawab kebutuhan publik secara nyata agar programnya memberikan hasil.
Penilaian serupa juga disampaikan oleh Center of Economic and Law Studies (CELIOS). Mentan Amran menduduki peringkat teratas sebagai menteri berkinerja terbaik pada Rapor 2 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran yang dirilis pada 12 Oktober 2026. Dalam survei yang melibatkan 994 responden, Mentan Amran berhasil meraih skor 140.
Penilaian ini didasarkan pada peran strategis Kementan dalam menjaga produksi pangan dalam negeri. Di bawah kepemimpinan Amran, swasembada pangan berhasil dicapai hanya dalam waktu satu tahun, melampaui target awal empat tahun. Keberhasilan swasembada yang lebih cepat dari target ini bahkan telah mendapat pengakuan langsung dari Presiden Prabowo Subianto.
Produksi beras nasional pada tahun 2025 tercatat menembus 34,69 juta ton. Indonesia juga berhasil mencetak rekor stok cadangan beras pemerintah (CBP) tertinggi yang mencapai 5,3 juta ton. Di tengah ancaman krisis iklim dan geopolitik global, Indonesia mampu menghentikan impor beras pada 2025 dan justru kembali melakukan ekspor ke sejumlah negara.
Peningkatan produksi ini berbanding lurus dengan kesejahteraan para pahlawan pangan. Nilai Tukar Petani (NTP) pada September 2026 menembus rekor tertinggi di angka 131,11. Pencapaian ini didukung kuat oleh berbagai kebijakan pro-rakyat, salah satunya adalah penetapan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah sebesar Rp 6.500 per kilogram.
Selain itu, Kementan juga telah menurunkan harga pupuk bersubsidi hingga 20 persen. Kebijakan ini memberikan ruang bagi petani untuk meraup untung lebih besar dan meningkatkan semangat bertani. Segala capaian di sektor pertanian ini menjadi indikator penting dalam mengukur keberhasilan pembangunan, di mana penguatan sektor pangan terbukti memainkan peran strategis dalam menjaga ketahanan nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.