Marak Bullying di Sekolah, Ahmad Sahroni Desak Proses Hukum dan Evaluasi Pendidikan

Jakarta – Wakil Ketua Komisi III DPR, Ahmad Sahroni, menyatakan kemarahannya atas kasus dugaan perundungan (bullying) yang dialami belasan siswi SMPN 10 Ciputat, Tangerang Selatan. Ia mendesak agar para pelaku dikenakan sanksi hukum. Para siswa tersebut diduga dipaksa meminum campuran kopi dan cuka oleh kakak kelasnya.

“Saya sangat miris dan marah mendengar kejadian seperti ini terus berulang. Oleh karenanya, saya mendukung proses hukum sesuai UU SPPA, agar ada sanksi, pembinaan, dan efek jera atas perbuatannya,” ujar Sahroni saat dihubungi pada Selasa (27/10/2026).

Lebih lanjut, Sahroni mendorong dilakukannya evaluasi menyeluruh dalam sistem pendidikan Indonesia. Ia menekankan perlunya terobosan baru untuk menghentikan siklus perundungan di sekolah.

“Selanjutnya, saya juga mendorong para pihak terkait, baik dari Kemendikdasmen, Polri, Komnas PA, dan sebagainya, untuk melakukan evaluasi besar-besaran pendidikan anak Indonesia. Harus ada terobosan dan pendekatan baru guna mencegah aksi bullying agar tidak terus berulang di anak-anak sekolah seperti ini,” tuturnya.

Sahroni menduga maraknya kasus bullying belakangan ini dipengaruhi oleh konten negatif di media sosial. “Ini karena media sosial terlalu banyak yang dilihat negatif jadi berpengaruh atas pikiran mereka,” imbuhnya.

Heboh 13 Siswi SMP Ciputat Di-bully Senior

Kasus perundungan ini terungkap setelah Kapolsek Ciputat Timur Kompol Bambang Askar Sodiq menerima laporan dari masyarakat. Menurutnya, ada 13 siswi yang menjadi korban perundungan oleh kakak kelas mereka.

“Kita mendapatkan korban perundungan itu ada 13 siswi. Nah, ini cewek-cewek nih. Ini cewek-cewek, yang dilakukan oleh senior kelas mereka. Jadi kelas 3 kepada kelas di bawahnya,” jelas Kompol Bambang Askar Sodiq pada Sabtu (24/10/2026).

Bambang mengungkapkan bahwa perundungan tersebut diduga terjadi di luar lingkungan sekolah, tepatnya di sebuah warung. Para korban disebut dipaksa mengikuti tantangan yang diberikan oleh kakak kelasnya. Siswi yang kalah atau salah dalam tantangan tersebut diminta meminum campuran kopi, cuka, dan bawang putih.

“(Pakai cara) challenge. Misalnya kan, ‘Lu, junior kan? Challenge nih’. Kalau ada yang kalah atau salah, langsung suruh minum itu. Informasi awal, itu kayak kopi liong dicampur cuka, dicampur bawang putih,” terang Bambang.

Dari 13 siswi yang menjadi korban, tiga di antaranya dilaporkan mengalami sakit perut dan harus menjalani perawatan di rumah sakit. “Ada 3 orang yang dirawat di rumah sakit infonya,” tutupnya.

Tinggalkan komentar