PALU – Tiga mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Tadulako (Untad) di Kota Palu, Sulawesi Tengah, dilaporkan mengalami penganiayaan yang diduga dilakukan oleh 20 seniornya. Tidak hanya dipukuli, para korban juga diduga disulut rokok hingga dipaksa melepaskan pakaian.
Kasus kekerasan di lingkungan kampus Untad Palu ini telah dilaporkan ke pihak kepolisian dan kini tengah dalam proses penyelidikan oleh Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polresta Palu. Humas Polresta Palu, Aiptu I Kadek Aruna, membenarkan penanganan kasus tersebut.
Peristiwa ini bermula pada Selasa (6/10) ketika ketiga mahasiswa tersebut ditegur oleh seorang dosen berinisial FJ karena kedapatan menggunakan telepon genggam di dalam kelas. Setelah insiden tersebut, para mahasiswa mendatangi dosennya untuk meminta maaf.
Namun, permintaan maaf tersebut tidak serta-merta diterima. Dosen tersebut justru menunjukkan kemarahan dan melibatkan pengurus Himpunan Mahasiswa Arsitektur (HMA). “Respon dosen itu tidak langsung memaafkan, tetapi marah. Yang menjadi tanda tanya, ketika dosen tersebut melibatkan Himpunan Mahasiswa Arsitektur kampus, senior-senior dari korban ini. Setelah keluar dari ruangan dosen, senior-senior itu memanggil mereka (korban),” ungkap Aiptu I Kadek Aruna.
Menurut keterangan, ketiga mahasiswa tersebut kemudian dipanggil ke sebuah ruangan dan langsung dianiaya. Akibatnya, korban mengalami luka memar di sekujur tubuh. Parahnya, beberapa bagian kulit korban juga mengalami luka melepuh karena diduga disulut dengan puntung rokok.
“Mereka disuruh jongkok, kemudian dipukuli membabi buta kurang lebih selama hampir satu jam di dalam ruangan. Selain luka lebam, ada juga luka melepuh karena disulut puntung rokok,” jelas Aiptu I Kadek Aruna.
Tidak hanya kekerasan fisik dan verbal, korban laki-laki juga dilaporkan mengalami pelecehan dengan dipaksa melepaskan pakaiannya dalam kondisi nyaris telanjang. Dalam kondisi tersebut, mereka kembali dipukuli dan bahkan diancam akan diarak keliling kampus.
“Yang sangat memprihatinkan, korban laki-laki disuruh melepaskan pakaian, ‘hampir telanjang’. Dalam kondisi seperti itu mereka dipukuli. Kemudian ada indikasi akan diarak di lingkungan kampus,” tuturnya.
Dugaan aksi penganiayaan ini disebut melibatkan sekitar 20 orang senior. Namun, dari jumlah tersebut, diidentifikasi ada sekitar enam orang yang diduga sebagai aktor intelektual di balik perundungan ini. “Kurang lebih 20-an. Tapi ada enam orang aktor intelektual. Kurang lebih enam orang aktor intelektual,” sebutnya.