Mahasiswa Jerman dan Indonesia Bersinergi Rancang Pengembangan Kawasan Transmigrasi Barelang

Sebanyak 20 mahasiswa Technical University of Munich (TUM), Jerman, berkolaborasi dengan akademisi dan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia untuk mempelajari potensi serta tantangan Kawasan Transmigrasi Barelang, Batam, Kepulauan Riau. Melalui program Summer Course 2026, inisiatif lintas negara ini bertujuan untuk merancang pengembangan kawasan yang mengintegrasikan perspektif global dengan kebutuhan masyarakat lokal.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pengembangan Ekonomi dan Pemberdayaan Masyarakat Transmigrasi Kementerian Transmigrasi RI (Kementrans), Harlina Sulistyorini, menyatakan bahwa Summer Course 2026 diarahkan untuk menghasilkan rancangan bernama Green Barelang Spatial Development Design. Desain ini akan fokus pada aspek ekonomi, sosial, infrastruktur, konektivitas, dan lingkungan.

“Teman-teman TUM akan membantu melakukan eksplorasi dan menganalisis potensi Barelang Rempang, terutama Kawasan Transmigrasi Rempang. Output akhirnya adalah green concept design yang nantinya bisa kita implementasikan agar kawasan menjadi lebih baik dan masyarakatnya lebih sejahtera,” ujar Harlina dalam keterangan tertulisnya pada Sabtu (3/10/2026).

Selama kegiatan berlangsung, para peserta akan mengamati langsung kondisi kawasan, termasuk potensi ekonomi, tata ruang, infrastruktur, serta kondisi sosial dan lingkungan. Mereka juga akan berdialog dengan masyarakat setempat untuk memahami kebutuhan dan tantangan yang dihadapi warga.

Harlina menegaskan bahwa pengembangan Barelang diprioritaskan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat lokal. Diharapkan, pengembangan kawasan ini dapat membuka lebih banyak kesempatan kerja sekaligus mendorong pemanfaatan potensi sumber daya alam yang ada di sekitarnya.

“Kawasan Rempang ini memang peruntukannya untuk masyarakat lokal yang ada di sini sehingga lebih diberdayakan, lebih diberi kesempatan untuk mendapatkan lebih banyak kesempatan tenaga kerjanya, dan juga pemanfaatan sumber daya alam yang ada di seputar Rempang,” jelas Harlina.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Transmigrasi Patriot (Trans Patriot), yang diinisiasi oleh Universitas Diponegoro (UNDIP) bekerja sama dengan TUM, Kementrans, dan Badan Pengusahaan (BP) Batam. Program ini menjembatani pengetahuan akademik dengan kebutuhan nyata di lapangan melalui pembelajaran di kelas, diskusi, observasi, serta dialog langsung dengan masyarakat.

Kolaborasi ini turut melibatkan Tim Ekspedisi Patriot dari Institut Teknologi Bogor (ITB), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), IPB University, dan Universitas Indonesia (UI), yang sebelumnya telah aktif di Kawasan Barelang. Hasil pengamatan dan pendampingan dari tim ekspedisi ini diharapkan dapat memastikan gagasan yang dihasilkan dalam Summer Course tetap relevan dengan kebutuhan dan kondisi masyarakat di lapangan.

Walter Timo de Vries, perwakilan dari TUM, menekankan pentingnya pembelajaran langsung di lapangan bagi mahasiswa. Menurutnya, mahasiswa tidak hanya diajak memahami teori, tetapi juga mengidentifikasi peluang, tantangan, serta pengalaman hidup masyarakat yang tinggal dan bekerja di kawasan tersebut.

“Yang paling penting bagi kami adalah tidak hanya mengajar di ruang kelas. Cara terbaik untuk belajar adalah melihat langsung bagaimana teori itu diterapkan, apa peluangnya, serta tantangan yang dihadapi masyarakat,” tutur de Vries.

Menariknya, proses pembelajaran dalam Summer Course bersifat dua arah. TUM tidak hanya membawa perspektif dari Jerman, tetapi juga berkeinginan belajar dari pengalaman pengembangan Barelang. Sebaliknya, Kementrans berharap pengalaman Jerman dalam partisipasi masyarakat, pengelolaan sumber daya lokal, dan kemandirian kawasan dapat menjadi referensi yang diadaptasi sesuai konteks Barelang.

Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, menyambut baik kolaborasi ini. Ia menyoroti keunikan Batam sebagai pusat industri, investasi, jasa, dan pariwisata, yang juga memiliki kawasan seperti Barelang dengan potensi pengembangan berkelanjutan. Menurutnya, Summer Course menjadi platform ideal untuk menyatukan pengetahuan, inovasi, pengalaman lokal, dan perspektif internasional.

“Pemerintah membawa kebijakan dan sumber daya, universitas membawa pengetahuan dan inovasi, masyarakat membawa pengalaman dan kearifan lokal, sedangkan komunitas internasional membuka perspektif yang lebih luas dan peluang kerja sama,” ujar Amsakar.

Rektor UNDIP, Achmad Zulfa Juniarto, menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan kontribusi nyata perguruan tinggi dalam pengembangan kawasan. UNDIP menggandeng TUM serta perguruan tinggi Indonesia lainnya agar pengetahuan akademik dapat diaplikasikan langsung untuk menjawab persoalan pembangunan di lapangan.

Sementara itu, Guru Besar Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) UNDIP, Wiwandari Handayani, menilai Summer Course sebagai kesempatan untuk menggabungkan perspektif global dengan konteks lokal. Ia berharap SDM unggul dari berbagai negara dan perguruan tinggi dapat bekerja sama dengan masyarakat untuk menghasilkan solusi yang sesuai dengan karakter dan kebutuhan kawasan.

Selain pengembangan kawasan, peserta dijadwalkan untuk mengenal Pulau Penyengat. Ini menjadi bagian dari pengalaman belajar mengenai sejarah, perdagangan, dan budaya Melayu yang membentuk karakter Kepulauan Riau. Kementrans berharap interaksi ini dapat memperkaya perspektif peserta sekaligus membuka peluang kerja sama lanjutan di bidang riset, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat.

Melalui Summer Course 2026, Kementrans mendorong agar transformasi transmigrasi tidak hanya berhenti pada pembangunan fisik, tetapi juga menghasilkan gagasan berbasis pengetahuan, inovasi, lingkungan, dan kebutuhan masyarakat. Rancangan yang dihasilkan di Barelang diharapkan menjadi pijakan bagi kegiatan riset, pendidikan, dan kolaborasi lanjutan untuk mendukung pengembangan kawasan transmigrasi.

Tinggalkan komentar