Lestari Moerdijat: Perempuan Harus Menulis untuk Mengukir Sejarah dan Pengaruh Kebijakan

Jakarta – Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI, Lestari Moerdijat, menekankan pentingnya peran perempuan dalam dunia tulis-menulis. Ia mendorong agar perempuan lebih aktif mencatat pengalaman dan gagasan mereka, sehingga jejak pemikiran dan kontribusi tersebut dapat terekam dalam sejarah.

Menurut Lestari, yang akrab disapa Rerie, tulisan memiliki kekuatan strategis sebagai sarana untuk menyuarakan berbagai persoalan yang dihadapi perempuan serta mendorong terciptanya perubahan kebijakan yang lebih baik. “Ketika perempuan sunyi dalam sejarah, sunyi di ruang publik, jejaknya tidak akan terlihat. Ketiadaan catatan bisa menafikan keberadaan kita sendiri,” ujarnya dalam keterangan tertulis pada Jumat, 23 Oktober 2026.

Pernyataan tersebut disampaikan Rerie saat memberikan pengantar pada acara Woman’s Writing Clinic yang diselenggarakan secara daring oleh Akademi Perempuan NasDem (APN) pada Kamis, 22 Oktober. Ia menjelaskan bahwa pencatatan pengalaman dan pemikiran perempuan memegang peranan krusial dalam upaya memperjuangkan kesetaraan gender.

Rerie menyoroti bahwa selama ini, banyak pengalaman dan gagasan berharga dari perempuan yang luput dari pencatatan, yang pada akhirnya berdampak pada kurangnya pertimbangan dalam proses pengambilan kebijakan publik. Ia memberikan contoh inspiratif dari R.A. Kartini, yang gagasan-gagasannya dalam surat-suratnya masih menjadi rujukan penting bagi perempuan hingga kini.

Selain Kartini, Rerie juga menyebut nama-nama perempuan berpengaruh lainnya seperti Ida B. Wells, Anne Frank, dan Virginia Woolf. Menurutnya, karya tulis dan catatan pemikiran dari para tokoh tersebut telah menjadi pijakan penting bagi perjuangan perempuan lintas generasi.

“Kerja-kerja di lapangan tanpa catatan dan tulisan akan sangat mudah dilupakan. Perempuan tidak cukup hanya menjadi bagian dari cerita, tetapi harus mampu menulis cerita itu sendiri,” tegas Rerie, yang juga menjabat sebagai Anggota Komisi X DPR RI. Ia menambahkan bahwa menulis bukan sekadar merangkai kata, melainkan sebuah cara efektif untuk menyampaikan pengalaman, pemikiran, serta mengemukakan ketidakadilan yang terjadi.

Melalui tulisan, Rerie berharap perspektif perempuan dapat lebih dipertimbangkan dalam setiap perumusan kebijakan. “Menulis adalah agensi strategis. Mari meramaikan narasi publik dengan isu-isu perempuan, tidak hanya bacaan saja, tetapi melalui catatan yang bisa kita tinggalkan,” ajaknya.

Dalam acara yang dihadiri oleh para aktivis perempuan dan jurnalis tersebut, Rerie menyampaikan harapannya agar Woman’s Writing Clinic tidak hanya berhenti sebagai sebuah pelatihan satu hari. Ia menargetkan kegiatan ini dapat berlanjut hingga menghasilkan sebuah buku kumpulan tulisan dari para peserta, yang akan menjadi catatan perjuangan perempuan di masa kini.

“Perempuan tidak kekurangan gagasan. Yang diperlukan adalah keberanian menuliskannya di ruang publik agar tulisan itu dibaca, diperdebatkan, dan memengaruhi keputusan,” pungkas Rerie.

Tinggalkan komentar