JAKARTA – Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terus berupaya memperkuat pendampingan bagi para pengusaha UMKM di Sumatera Barat yang terdampak bencana. Fokus utama pendampingan meliputi penguatan kapasitas produksi, perluasan akses pasar, serta fasilitasi pembiayaan untuk memulihkan dan mengembangkan kembali usaha mereka.
Wakil Menteri UMKM, Helvi Moraza, menjelaskan bahwa pemulihan UMKM pascabencana memerlukan penanganan yang serius, menyeluruh, dan berkelanjutan. Kementerian UMKM berkomitmen memastikan para pengusaha terdampak mendapatkan dukungan yang memadai untuk kembali menjalankan aktivitas ekonomi mereka.
“Dampak bencana terhadap UMKM dan bagaimana mengantisipasinya justru menjadi tantangan paling berat setelah bencana terjadi. Karena itu, kami hadir untuk memastikan pengusaha UMKM mendapatkan pendampingan agar bisa memulai kembali usahanya dan menjaga keberlanjutannya,” ujar Helvi dalam keterangan tertulis, Minggu (4/10/2026).
Ia menambahkan, dukungan pemerintah tidak boleh hanya berhenti pada penyaluran bantuan semata. Bantuan tersebut harus terintegrasi dalam proses pemberdayaan dan pemulihan usaha agar para pengusaha UMKM dapat kembali beraktivitas secara produktif dan berkelanjutan.
“Karena itu, tujuan kami bukan sekadar menyalurkan bantuan yang kemudian digunakan tanpa arah pemberdayaan, melainkan memastikan bantuan tersebut mendukung pemulihan usaha. Selain menyalurkan bantuan Presiden, kami juga menjalankan pelatihan dan pendampingan agar ketika Bapak dan Ibu memulai usaha kembali, usaha tersebut dapat terus berjalan dan berkembang,” jelas Helvi.
Pendampingan yang diberikan mencakup berbagai aspek, mulai dari perbaikan kualitas produk, peningkatan kapasitas produksi, penguatan strategi pemasaran, hingga akses pembiayaan yang disesuaikan dengan kebutuhan spesifik setiap usaha. Sebelumnya, Kementerian UMKM telah mengawali program pendampingan ini melalui aktivasi Klinik UMKM Minang Bangkit pada 23 Januari 2026, yang menerapkan tiga tahapan pemulihan: pulih mental, pulih usaha, dan bertumbuh.
Program Peningkatan Kapasitas Wirausaha Terdampak Bencana dirancang untuk menjangkau total 1.475 pengusaha UMKM dan wirausaha di tiga regional. Khusus untuk Regional II, program ini dipusatkan di Kota Padang dengan 752 peserta.
Helvi menekankan bahwa keberhasilan program harus terukur dari perubahan nyata pada usaha para pelaku UMKM. Indikator keberhasilan meliputi produksi yang kembali berjalan lancar, peningkatan jumlah pesanan, terbukanya kembali akses pasar, kenaikan pendapatan, serta terjaganya mata pencaharian masyarakat.
“Keberhasilan kita juga tidak cukup diukur dari jumlah pelatihan atau peserta yang hadir. Ukurannya harus terlihat pada perubahan nyata seperti produksi kembali berjalan, pesanan bertambah, pasar terbuka, pendapatan meningkat, dan mata pencaharian masyarakat tetap terjaga,” ungkap Helvi.
Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, menyambut baik langkah Kementerian UMKM dalam memperkuat usaha masyarakat yang terdampak bencana. Ia menggarisbawahi pentingnya sektor UMKM bagi perekonomian Sumatera Barat, mengingat sektor ini menjadi tulang punggung daerah sekaligus sumber utama penghidupan masyarakat.
“Sumatera Barat memiliki hampir 750 ribu UMKM. Jika satu UMKM menopang satu keluarga dengan rata-rata lima orang, maka hampir empat juta masyarakat kita bergantung pada aktivitas ekonomi UMKM. Ini menunjukkan betapa pentingnya penguatan sektor UMKM bagi perekonomian dan kesejahteraan masyarakat Sumatera Barat,” ujar Mahyeldi.
Lebih lanjut, Mahyeldi menyatakan bahwa pendampingan terhadap UMKM yang terdampak bencana sangat membutuhkan kerja sama dan kolaborasi dari seluruh pihak. Kementerian UMKM pun mendorong sinergi yang lebih luas untuk memastikan para pengusaha memperoleh tindak lanjut yang efektif pasca-pendampingan.