Jakarta – Kementerian Agama (Kemenag) menjalin kolaborasi strategis dengan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) untuk mengimplementasikan program unggulan Pesantren Adaptif dan Mandiri, Santri 5.0, serta Dakwah Digital. Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag, Basnang Said, menyatakan bahwa kerja sama ini bertujuan agar manfaat positif dapat tersampaikan kepada masyarakat secara lebih luas.
“Kami memiliki kepedulian yang sama. Bagaimana agar santri dan pesantren tetap relevan di tengah pesatnya perkembangan media digital dan kecerdasan buatan (AI),” ujar Basnang pada Sabtu (24/10/2026).
Ia menambahkan bahwa adopsi media digital dan AI oleh pesantren tidak hanya sebatas tren, melainkan menjadi bagian integral dari transformasi pesantren untuk memperluas jangkauan kebaikan.
“Agar kebaikan tidak hanya berkutat di lingkungan pesantren tetapi dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas,” jelasnya.
Wakil Ketua Umum PBNU, Irfan Asy’ari Sudirman Wahid atau yang akrab disapa Gus Ipang Wahid, menyambut baik peran PBNU sebagai mitra kolaborasi strategis bagi Kemenag, terlebih Gus Ipang sendiri memegang posisi sebagai wakil ketua umum yang bertanggung jawab atas bidang media dan digital.
Gus Ipang mengusulkan agar kerja sama ini diawali dengan pengenalan AI kepada para santri, penyelenggaraan pelatihan keterampilan, serta pelibatan para kreator konten untuk mendukung aktivitas dakwah pesantren di ranah media sosial.
“Selain dia bisa mandiri, tapi dia juga adaptif dengan teknologi,” kata Ipang.
Lebih lanjut, Ipang menekankan pentingnya mengenalkan sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM) kepada santri. Bersamaan dengan itu, pesantren perlu membekali santri dengan keterampilan praktis, seperti berkebun dan beternak.
Pembekalan ini sejalan dengan konsep program Santri 5.0, yang diharapkan dapat menghasilkan santri yang memiliki kompetensi di berbagai bidang, tidak hanya dalam penguasaan ilmu agama.
“Santri yang menguasai aspek spiritual, dia juga kuat di intelektual, dan dia juga paham vokasional,” ujarnya.
Untuk program Dakwah Digital, Ipang mengungkapkan antusiasme sejumlah tokoh dan kreator konten yang siap berkontribusi, termasuk Habib Husein Ja’far, Atta Halilintar, Putra Siregar, Willy Salim, dan Aldi Taher.
“Kami ingin menurunkan bahasa dakwah menjadi sesuatu yang lebih universal,” katanya.
Melalui keterlibatan para tokoh tersebut, diharapkan pesan-pesan dari pesantren dapat menjangkau audiens yang lebih luas di media sosial. Ipang menegaskan bahwa kerja sama ini bersifat terbuka bagi siapa saja yang ingin turut serta dalam menyebarkan kebaikan.
“Ini bukan permasalahan untuk NU atau bukan NU, bukan. Ini untuk kebaikan yang universal. Jadi, bagaimana membawa kesejukan di ranah media sosial bagi semuanya,” pungkasnya.