PALEMBANG – Kabut asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus menyelimuti Kota Palembang, Sumatera Selatan, membuat kualitas udara masuk kategori berbahaya. Warga mengeluhkan gejala fisik seperti mata perih dan kesulitan bernapas akibat paparan asap yang kian intens.
Pantauan di berbagai titik di Palembang pada Jumat (16/10/2026) pagi menunjukkan ketebalan kabut asap yang signifikan, meskipun sedikit berkurang dibandingkan hari-hari sebelumnya. Jarak pandang dilaporkan sangat terbatas, terutama bagi para pengendara yang terpaksa menyalakan lampu utama kendaraan untuk meningkatkan visibilitas.
Di ruas Jalan Jenderal Sudirman dan Demang Lebar Daun, kabut asap terpantau lebih tebal, memaksa banyak pengendara untuk memperlambat laju kendaraannya demi keselamatan.
Salah seorang pengendara, Zulkarnain (35), menyampaikan pengalamannya. “Pagi tadi, Pak, yang pekat sekali asapnya. Tadi saya pelan-pelan membawa motor karena jarak pandang terbatas,” ujarnya.
Zulkarnain juga menambahkan bahwa kabut asap seringkali menyebabkan matanya terasa perih. Bahkan, bau asap yang menyengat terkadang masih tercium menembus masker yang digunakannya. “Walaupun pakai masker kadang masih tercium aroma asap. Mata juga sedikit perih akibat asap ini. Ya semoga ini cepat berlalu ya, karena ini sudah dari bulan lalu (kabut asap),” keluhnya.
Kekhawatiran serupa diungkapkan oleh Suyani (41). Ia merasa cemas terhadap dampak jangka panjang kabut asap terhadap kesehatan, terlebih di tengah kondisi musim kemarau yang terik. “Kalau asap terus begini takut juga dengan kesehatan kita, apalagi sehari-hari saya selalu keluar ruangan untuk berangkat kerja. Iya memang mata merasa sedikit perih ya kalau lagi berkendara,” tuturnya.