Jalan Amblas di Tapanuli Selatan: Akses Tarutung-Sipirok Dibuka Kembali Usai Penanganan Darurat

TAPANULI SELATAN – Akses transportasi di ruas Jalan Tarutung-Sipirok-Padangsidimpuan, tepatnya di Antur Mangan, Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, telah kembali normal. Jalur yang sempat terputus akibat badan jalan amblas kini dapat dilalui kembali setelah penanganan darurat. Upaya pelebaran jalur alternatif dilakukan untuk memulihkan mobilitas masyarakat dan kelancaran arus kendaraan.

Peristiwa jalan amblas terjadi pada Minggu (18/10) sekitar pukul 18.00 WIB. Hujan dengan intensitas tinggi memicu longsor di STA 14+150, yang mengakibatkan terputusnya akses lalu lintas. Insiden ini juga menyebabkan satu kendaraan roda enam terperosok ke dalam area yang amblas.

Pemulihan akses darurat melibatkan pelebaran jalan detour, penimbunan dan pemadatan material, serta pemasangan pelat baja yang diperkuat dengan agregat. Langkah-langkah ini memungkinkan kendaraan, baik kecil maupun besar, untuk kembali melintasi ruas jalan tersebut.

Brigjen TNI Fadjar Tjahjono, Ketua Tim Monitoring dan Evaluasi Tapsel Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera, menyatakan, “Penanganan darurat telah berhasil membuka kembali akses jalan bagi kendaraan kecil maupun kendaraan besar. Selanjutnya, diperlukan percepatan penanganan permanen dan pengawasan berkala guna mencegah terjadinya longsor atau jalan amblas susulan.”

Pembukaan kembali akses ini merupakan hasil kerja sama tim lapangan, operator alat berat, penyedia jasa, dan konsultan. Sebanyak tiga ekskavator, dua vibro roller, satu motor grader, dan lima dump truck dikerahkan untuk mempercepat pekerjaan dan memastikan jalur tetap dapat dilalui.

Meskipun lalu lintas telah kembali bergerak, pengamanan jalur sementara perlu terus diperkuat. Hal ini penting untuk mengantisipasi risiko kendaraan tergelincir. Satgas PRR mengusulkan penambahan agregat pada bagian jalan yang menggunakan pelat baja, serta pemeriksaan berkala terhadap permukaan jalan dan daya dukung jalur detour.

Penanganan lanjutan akan difokuskan pada pembangunan dinding penahan tanah yang diperkuat dengan bore pile. Tujuannya adalah untuk mengembalikan badan jalan ke posisi semula. Pekerjaan ini akan memperhatikan kestabilan lereng, kekuatan badan jalan, sistem drainase, dan potensi pergerakan tanah apabila terjadi hujan berintensitas tinggi kembali.

Sebelum insiden jalan amblas, pekerjaan dinding penahan tanah sebenarnya telah berjalan, dengan bore pile tertanam dan penggalian untuk pembangunan pile cap. Pelaksanaan sempat terkendala oleh keberadaan tiang listrik di jalur pelebaran detour. Setelah kendala tersebut diatasi, pekerjaan pembukaan akses dapat dilanjutkan.

Satgas PRR mendorong Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 2.2, penyedia jasa, konsultan pengawas, pemerintah daerah, dan instansi terkait lainnya untuk memperkuat koordinasi. Tujuannya agar penanganan permanen dapat berjalan sesuai kebutuhan teknis. Ketersediaan agregat Kelas A, urugan pilihan, dan sheet pile juga perlu dipastikan untuk kelancaran pekerjaan.

Percepatan pekerjaan permanen dan mitigasi teknis menjadi langkah krusial untuk menjaga jalur Tarutung-Sipirok-Padangsidimpuan tetap aman. Hal ini juga penting untuk melindungi konektivitas serta aktivitas ekonomi masyarakat di wilayah tersebut.

Tinggalkan komentar