Ibu di Depok Melahirkan Bayi Meninggal, Rahim Diangkat Pasca Persalinan

Seorang ibu di Depok, Jawa Barat, berinisial IN (31), mengalami duka mendalam setelah bayinya lahir dalam kondisi meninggal dunia. Situasi tragis ini diperparah dengan pengangkatan rahimnya pasca persalinan. Kisah ini menjadi viral di media sosial.

Menurut Edeh, ibunda IN, putrinya rutin memeriksakan kehamilan selama sembilan bulan tanpa menunjukkan adanya gangguan medis. Namun, pada Rabu (23/9) sekitar pukul 15.00 WIB, IN menjalani proses persalinan di Puskesmas Tapos, Depok.

Edeh mengungkapkan bahwa tindakan pemecahan ketuban baru dilakukan pada pukul 21.00 WIB. “Ya penanganannya sih maksimal, cuma kelalaian kurang cepat. Bayangin dari dia masuk itu jam 15.00 WIB, pecah ketuban itu dipecahkan jam 21.00 WIB,” ujarnya kepada wartawan, Jumat (2/10/2020).

Edeh sempat menanyakan risiko jika ketuban pecah tanpa segera dilakukan persalinan. Pihak Puskesmas disebutnya menyatakan kondisi tersebut tidak bermasalah. Namun, IN kemudian dirujuk ke rumah sakit pada Kamis (24/9) pukul 01.00 WIB dini hari.

“Nah, pertama dia tuh ngerujuk jam 23.00 WIB mungkin dokternya belum ada. Diganti lagi ke jam 01.00 WIB. Jam 01.00 WIB itu langsung dioper ke RS lain,” ungkap Edeh.

Ia mengaku heran karena di rumah sakit, tindakan medis baru dilakukan empat jam kemudian, sekitar pukul 05.00 WIB, tanpa kehadiran dokter. “Kenapa harus di situ dokternya belum ada di tempat? Harusnya kita mau rujuk itu dokter sudah ada di tempat. Mungkin langsung penanganan. Ini kita dari jam 01.00 WIB sampai jam 05.00 WIB baru ditangani,” jelasnya.

Edeh menambahkan bahwa anaknya saat itu sudah sangat kesakitan. “Anak saya udah histeris, teriak-teriak ‘Sakit, Mama! Panas, Mama! Perih!’ Pokoknya saya juga pas waktu detak jantung ini gimana dengan bayinya? Enggak ada yang jawab bidan dari sana,” tuturnya.

IN akhirnya melahirkan bayinya melalui operasi caesar, namun sang bayi tidak terselamatkan. Edeh merasa sangat kecewa dengan pelayanan medis yang dinilai lambat dan menduga adanya kelalaian yang menyebabkan kematian cucunya. “Pokoknya saya sangat kecewa dengan pelayanan. Kalau mungkin kalau dokternya pas dirujuk itu ada, enggak mungkin akan terjadi seperti ini. Memang kita kembalikan ke nasib, tapi ada sebabnya, kelalaian,” ungkapnya.

Edeh juga mempertanyakan alasan pengangkatan rahim putrinya, mengingat tidak ada masalah medis yang terdeteksi selama kehamilan. Ia juga menyebutkan tidak adanya opsi rumah sakit rujukan dari pihak puskesmas. “Dan kenapa sampai rahim anak saya tuh diangkat? Kan dari pemeriksaan dia hamil tuh enggak ada masalah apa-apa. Enggak ada, ya bagus-bagus semuanya. Dan kita enggak dikasih opsi untuk pindah rumah sakit,” tuturnya.

Menanggapi hal tersebut, Kadinkes Devi Maryori menyatakan bahwa pihaknya sedang melakukan proses audit terkait pelaksanaan pra-rujukan dan proses persalinan korban. Audit ini melibatkan dokter independen dari RSPAD Gatot Soebroto.

“Untuk progres audit Maternal Perinatal Surveillance Response yang akan dilakukan, itu kan membutuhkan dokter yang independen, yang tidak melaksanakan pertolongan persalinan ini. Kami selama ini bekerja dibantu oleh dokter dari RSPAD, Rumah Sakit Gatot Soebroto,” ujar Devi.

Pihak Dinkes sedang mengajukan permohonan audit untuk mencari titik terang mengenai ada atau tidaknya kesalahan dalam persalinan tersebut. “Nah itu kami sudah melapor dan sudah mengajukan permohonan untuk dilakukan audit, karena memang dokternya dua. Jadi ini lagi mencari waktu ya dokter anak dan SpOG, mencari waktu agar dua-duanya bisa bersamaan,” jelasnya.

Devi menambahkan bahwa hasil audit maternal perinatal akan disampaikan kepada rumah sakit terkait sebagai rekomendasi. “Intinya selama ini hasil audit maternal perinatal itu kami sampaikan feedback kembali ke rumah sakit. Mereka menyerahkan kepada yang meminta, dalam hal ini Dinkes. Kemudian kami serahkan hasil dan rekomendasi dari hasil audit itu, yang ditandatangani saya, ke rumah sakit yang bersangkutan,” tutupnya.

Tinggalkan komentar