Menteri Sosial, Saifullah Yusuf atau yang akrab disapa Gus Ipul, menekankan pentingnya asesmen yang akurat sebagai dasar penentuan dukungan belajar, pengasuhan, hingga layanan rehabilitasi sosial bagi siswa Sekolah Rakyat. Hal ini disampaikan Gus Ipul saat memberikan arahan kepada jajaran Kementerian Sosial, para Kepala Sentra, Kepala Balai, dan Kepala Sekolah Rakyat secara daring.
Menurut Gus Ipul, asesmen di Sekolah Rakyat bukanlah sekadar formalitas administratif. “Asesmen adalah yang menentukan dukungan belajar seperti apa yang diberikan, pengasuhan seperti apa yang dibutuhkan, dan rehabilitasi sosial seperti apa yang harus dijalankan untuk setiap anak,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa siswa Sekolah Rakyat memiliki latar belakang dan kondisi yang sangat beragam. Mereka dijangkau berdasarkan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) pada Desil 1 dan 2, tanpa melalui seleksi akademik. Oleh karena itu, asesmen awal menjadi krusial untuk memahami kondisi fisik, kemampuan akademik dasar, mental, serta kerentanan psikososial setiap siswa.
“Tanpa asesmen yang benar, guru bisa salah mengajar, wali asuh bisa salah mendampingi. Maka seluruh proses yang akan saya jelaskan ini sesungguhnya berputar pada satu poros, data dan asesmen yang akurat tentang setiap anak,” tegas Gus Ipul.
Gus Ipul melanjutkan, hasil asesmen akan menjadi dasar penyusunan rencana perkembangan individual siswa. Proses pendidikan dan rehabilitasi akan berjalan simultan, meliputi pembelajaran akademik oleh guru serta pengasuhan dan rehabilitasi yang melibatkan wali asuh, wali asrama, dan Sentra Kemensos.
Siswa dengan tingkat kerentanan ringan hingga sedang akan mendapatkan pendampingan di sekolah melalui penguatan karakter. Sementara itu, siswa dengan kerentanan tinggi akan dirujuk ke Sentra Kemensos untuk penanganan yang lebih spesifik.
“Guru, wali asuh, wali asrama, kepala sekolah, dan sentra harus duduk dalam satu mekanisme case management yang sama. Kalau salah satu roda goyang atau berjalan tanpa koordinasi dengan roda yang lain, yang dirugikan adalah anaknya,” katanya.
Keberhasilan Sekolah Rakyat, lanjut Gus Ipul, tidak hanya diukur dari kenaikan kelas. Tiga kompetensi dasar yang ditargetkan adalah kemampuan akademik yang kuat, karakter yang baik (disiplin, tangguh, beretika), dan keterampilan yang memadai, termasuk kemampuan berbahasa asing dan literasi teknologi.
Persiapan siswa untuk melanjutkan pendidikan atau memasuki dunia kerja juga dimulai sejak kelas dua SMA. Peminatan siswa akan disesuaikan dengan tujuan mereka, baik melalui jalur akademik, dunia kerja, maupun kewirausahaan.
“Lulus di Sekolah Rakyat bukan garis akhir. Itu pintu masuk ke dua jalur, jalur akademik ke perguruan tinggi dan jalur karier sebagai pekerja terampil maupun wirausahawan,” jelas Gus Ipul.
Untuk memastikan pendampingan yang terpadu, Gus Ipul menekankan koordinasi erat antara sekolah, Sentra, dan seluruh pihak terkait. Ia juga meminta agar siswa yang membutuhkan layanan psikososial segera ditindaklanjuti tanpa penundaan.
“Kepala Sentra harus setiap saat menerima rujukan kasus psikososial tinggi. Jangan sampai ada yang butuh pertolongan justru menunggu lama karena koordinasi yang lambat atau ada yang tidak peduli,” pintanya.
Gus Ipul meminta semua pihak menggunakan data yang sama untuk memantau perkembangan siswa secara menyeluruh. Ia berharap proses bisnis Sekolah Rakyat dapat meningkatkan mobilitas sosial siswa dan memutus transmisi kemiskinan antargenerasi.
“Ini dibuat untuk memastikan mobilitas sosial siswa meningkat dan transmisi kemiskinan antargenerasi benar-benar bisa diputus. Bukan sekadar wacana, tapi kerja yang bisa kita ukur, kita pantau, dan kita bertanggung jawabkan,” tutupnya.