Edukasi Kesehatan Lingkungan TEP Undip untuk Siswa Tempirai Selatan

Jakarta – Tim Ekspedisi Patriot Universitas Diponegoro (Undip) telah menyelenggarakan kegiatan edukasi kesehatan lingkungan bagi ratusan siswa sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) di kawasan Tempirai Selatan. Melalui berbagai media interaktif seperti kartu permainan, poster, dan modul bergambar, para siswa diajak untuk menanamkan kebiasaan hidup bersih dan sehat sejak dini.

Fokus edukasi tidak hanya pada kebersihan, tetapi juga mencakup pentingnya memilah dan mengolah sampah, serta pencegahan stunting dan penyakit yang seringkali timbul akibat lingkungan yang kurang terjaga kebersihannya. Kegiatan ini mendapat sambutan hangat dari para guru dan murid, yang melihatnya sebagai upaya efektif untuk menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan hidup sejak usia muda.

Salah seorang guru dari SDN 2 Penukal Utara, Yeni, menyatakan dukungannya terhadap program tersebut. “Saya sangat mendukung adanya program ini karena tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter siswa untuk peduli pada lingkungan sekitar,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (2/10/2026).

Kondisi lingkungan di Tempirai Selatan, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir, Sumatera Selatan, masih menghadapi tantangan signifikan terkait akses air bersih dan pengelolaan sampah. Situasi ini berdampak pada kerentanan warga, khususnya anak-anak, terhadap berbagai penyakit seperti diare, cacingan, dan infeksi kulit.

Para siswa menunjukkan respons positif terhadap metode pembelajaran yang diterapkan. Kharir, seorang siswa SDN 3 Penukal Utara yang tinggal di kawasan transmigrasi, mengungkapkan kegembiraannya. “Kelas belajarnya seru karena aku bisa belajar sambil bermain. Terima kasih kakak-kakak TEP Undip, tetap semangat untuk mengajar,” tuturnya.

Ketua Tim Ekspedisi Patriot Undip, Yusniar Hanani, melaporkan bahwa kegiatan ini diikuti oleh 120 siswa dari dua sekolah di kawasan transmigrasi. Melalui aktivitas yang dirancang secara interaktif dan menyenangkan, para siswa diajak memahami pentingnya menjaga kesehatan dan lingkungan.

“Dalam program ini, kami menghadirkan modul pencegahan penyakit berbasis lingkungan hingga stunting. Kami tidak hanya memberikan materi, tetapi juga praktik interaktif menggunakan media seperti flashcard agar siswa dapat langsung mencocokkan jawaban serta berkomitmen menjaga lingkungannya,” jelas Yusniar.

Kegiatan edukasi ini sejalan dengan visi Presiden RI Prabowo Subianto mengenai pentingnya pemahaman lingkungan hidup sejak dini di sekolah. “Dengan pendidikan mulai dari anak-anak muda, anak-anak sekolah, bahwa tidak lagi boleh bakar atau tebang pohon seenaknya,” ujar Prabowo saat memimpin rapat penanganan bencana gempa di NTT, Rabu (26/8/2026).

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Menko IPK) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) juga menekankan pentingnya tindak lanjut konkret dari temuan lapangan Tim Ekspedisi Patriot 2026. “Jangan sampai teman-teman Ekspedisi Patriot sudah turun ke lapangan, sudah mendengarkan masyarakat, kemudian berhenti di masalah. Kita harus menghadirkan solusi yang terbaik, relevan, feasible, dan masuk akal,” kata AHY saat berdialog dengan peserta ekspedisi di Jayapura, Papua, Kamis (17/9/2026).

Secara terpisah, Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara menegaskan bahwa pengembangan kawasan transmigrasi harus mengedepankan keberlanjutan dengan tetap menjaga lingkungan dan menghormati budaya lokal. “Pembangunan kawasan harus berkelanjutan. Tidak ada yang instan. Pembangunan juga tidak boleh mengabaikan lingkungan dan budaya masyarakat setempat,” pungkas Iftitah saat memberikan kuliah umum di Universitas Hasanuddin (Unhas), Selasa (11/8).

Tinggalkan komentar